Mitosis

Published Oktober 21, 2012 by putrirajopagaruyuang

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

 

MITOSIS

I.            PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan teori evolusi,organisme multiseluler berasal dari organisme uniseler. Mekanisme tertentu telah ditempuh hingga terwujudnya organisme multiseluler sampai dalam wujud seperti sekarang ini. Salah satu mekanisme yang ditempuh adalah melalui reproduksi sel. Semua organisme mengalami reproduksi baik dalam perkembangan ataupun dalam pertumbuhannya. Reproduksi sel dapat terjadi karena peristiwa pembelahan sel. Pembelahan sel ini diawali dengan adanya pembelahan kromosom dalam beberapa tahap pembelahan. Pada setiap tahap pembelahan mempunyai ciri-ciri tertentu yang dapat diamati proses-prosesnya melalui teknik atau perlakuan tertentu yang diberikan pada kromosom dalam sel tersebut. Adapun pembelahan sel dibedakan menjadi dua macam, yaitu mitosis dan meiosis (Ardiawan,2009).

Dalam bidang genetika, mitosis adalah proses yang menghasilkan dua sel anak yang identik. Mitosis mempertahankan pasangan kromosom yang sama melalui pembelahan inti dari sel somatik secara berturut-turut. Proses ini terjadi secara bersama-sama dengan pembelahan sitoplasma dan bahan-bahan di uar inti sel (Crowder,1997).

Dalam arti sempit, mitosis tidak berhubungan dengan replikasi DNA dan kromosom, karena kejadian yang terakhir ini berlansung selama periode 5 interfase. Akan tetapi mitosis adalah penunjang pokok untuk aplikasi kromosom, berhubung mitosis itu memastikan bahwa masing-masing sel anak mendapat satu saudara dari masing-masing pasangan kromatid dan dengan demikian jugaseperangkap kromosom lengkap (Adisoemarto,1988).

Menurut Suryo (2001), pada mitosis bahan inti sel terbagi sedemikian rupa, sehingga dari satu sel yang dihasilkan dua buah anakan yang masing-masing memiliki sifat genetik sama. Gamet betina setelah dibuahi oleh oleh gamet jantan akan bersifat diploid dan dinamakan zigot. Zigot inilah yana akan membelah berkali-kali.

Dalam sel beristirahat atau interfase, kromosom berada dalam kondisi tidak mengumpar dan demikian sulit untuk dilihat, tetapi itu adalah selama interfase bahwa setiap kromosom direplikasi. Tahap pertama dari mitosis, profase, dimulai ketika kumparan kromosom dan menebal dan bentuk apartus golgi bergelondong. Pada pertengahan profase, kromosom mudah terlihat, masing-masing longitudinal dibagi menjadi kromatid identik yang diproses bersama oleh sentromer. Tahap berikutnya metafase, dimulai ketika membran nukleus rusak dan nukleolus menghilag. Kromosom terus menggumpar dan menebal dan menyelaraskan di ekuator atau plat metafase. Serat-serat pindle memperpanjang dari sentriol ke sentromer masing-masing kromosom. Tahap berikutnya anafase, dimulai ketika sentromer dibagi dan dua kromatid dari setiap kromosom terpisah dan bergerak ke arah kutub berlawanan dari sel. Fase mitosis terakhir, telofase, terjadi ketika gerakan kromosom selesai. Sekarang terbentuk membran nuclear, sitokinesis, atau pembelahan sel terjadi, dan dua sel anak keluar dimana itu merupakan dua anakan identik (Jenkins,1975).

Dengan mempelajari mitosis dengan cara ini kita dapat mengamati perubahan yang terjadi pada kromosom dan melihat bagaimana berlansungnya proses hereditas dalam sel somatik. Juga, dengan penggunaan bahan kimia tertentu sangat memungkinkan untuk menangkap proses pembelahan pada tahap profase akhir dan dengan demikian akan terlihat kromosom yang padat. Teknik ini memungkinkan studi tentang ukuran, jumlah dan bentuk kromosom, dan memungkinkan kita untuk melihat bagaimana aspek organisasi kromosom bervariasi dari satu spesies yang lain (Jones,1991).

 

1.2 Tujuan

Tujuan praktikum Mitosis ini untuk mengaplikasikan teknik pembuatan preparat kromosom tumbuhan dan hewan, pengamatan strukturnya serta menentukan fase-fase pembelahan mitosis sel yang teramati pada akar bawang dan ekor kecebong.

 

 

II.            TINJAUAN PUSTAKA

Pembelahan sel dapat dikatakan sebagai suatu proses yang menyangkut terbentuknya sel-sel anak baru dari induknya. Pada sel somatis (sel jaringan tubuh), akan terjadi suatu pembelahan sel induk menjadi dua sel anak yang komponen-komponennya sama dan identik dengan sel induk. Peristiwa pembelahan sel somatis semacam ini disebut sebagai mitosis. Mitosis adalah pembelahan sel dimana berlansung pembelahan dan pembagian nukleus berserta kromosom-kromosom yang terdapat didalamnya (Suryo, 1998).

Mitosis hanya satu bagian dari siklus sel. Sebenarnya fase mitotik (M), ynag mencakup mitosis dan siktokinetis, biasanya merupakan bagian tesingkat dari siklus sel tersebut. Pembelahan sel mitotik yang berurutan bergantian dengan interfase yang jauh lebih lama, yang sering kali meliputi 90% dari siklus ini.  Selama interfase inilah sel tumbuh dan menyalin sel kromosom dalam persiapan untuk pembelahan sel. Interfase dapat dibagi menjadi subfase: fase G1 (gap pertama), fase S dan  fase G2 (gap kedua). Selama ketiga subfase ini, sel tumbuh dengan menghasilkan protein dan organel dalam sitoplasma. Kromosom diduplikasi hanya selama fase S (sintesis DNA). Dengan demikian, suatu sel tumbuh (G1) terus tumbuh begitu sel tersebut sudah menyalin kromosomnya (S), dan tumbuh lagi sampai sel tersebut menyelesaikan persiapannya untuk pembelahan sel (G2) dan membelah (M). Sel anak dapat megurangi siklus ini. Sel yang membelah mengungkapkan dinamika mitosis sebagai salah satu rangkaian perubahan (Campbell, 2002).

Mitosis adalah pembelahan nuclear ditambah sitokinesis dan menghasilkan dua sel anak yang identik selama selama profase, prometafase, metafase, anafase dan telofase. Interfase sering dimasukkan dalam diskusi mitosis. Tetapi interfase secara teknis bukan bagian dari mitosis melainkan meliputi tahap G1, S dan G2 dari siklus sel (Suryo, 2001).

Kromosom yaitu benda-benda halus berbentuk panjang atau pendek, lurus atau bengkok. Kromosom pada dasarnya merupakan pembawa sifat keturunan. Kromosom dibedakan atas autosom (kromosom tubuh) dan genosom (kromosom sex). Pada kromosom terdapat sentromer, yaitu bagian yang membagi kromosom menjadi dua lengan. Pada makhluk tingkat tinggi, sel somatik mengandung satu sel kromosom yang diterima dari kedua induk. Sepasang kromosom disebut sebagai kromosom homolog karena kromosom dari induk betina serupa dengan kromosom induk jantan. Oleh karena itu, kromosom dalam sel tubuh dinamakan diploin (2n) sedangkan kromosom sex berjumlah setengah dari kromosom sel somatik/haploid (n). Sepasang kromosom haploid dinamakan genom (Suryo, 1998).

Jaringan yang mudah untuk ditelaah mitosis ialah meristem pada titik tumbuh akar bawang. Mewarnainya dengan zat pewarna yang sesuai akan tampak kromosom-kromosom dalam sel yang membelah diri. Sel akar bawang yang baru terbentuk berisi 16 kromosom, 8 diantaranya mula-mulanya disumbangkan oleh “bapak” tumbuhan bawang, yaitu tumbuhan yang menyediakan gamet jantan. Kromosom ini sering dinamakan kromosom paternal. Sisa yang 8 lagi semula disediakan oleh “indung” bawang, yaitu bawang yang menghasilkan telur. Inilah kromosom maternal. Untuk setiap kromosom maternal ada kromosom paternal yang amat mirip dengan pertama tadi. Kromosom-kromosom yang serupa ini merupakan kromosom yang homolog, setiap anggota suatu pasangan homolog tertentu seringkali disebut homolog anggota lainnya pasangan tersebut. Beberapa kejadian yang terdapat selama mitosis dibagi ke dalam empat fase yang berurutan yaitu, profase, metafase, anafase dan telofase. Fase-fase ini hanyalah merupakan cara yang mudah untuk memeriksa mitosis. Proses sebenarnya meliputi (dengan beberapa perkecalian) urutan kejadian yang sinambung yang melebur sesamanya dengan mulusnya (Kimball, 2000).

Berikut ini penjelasan fase-fase mitosis. Profase, kontraksi kromosom. Pengamatan sel profase akan mengungkapkan bahwa kromosom secara bertahap menjadi lebih pendek dan lebih tebal (olehkontraksi dan kondensasi) dan dengan demikian menjadi lebih jelas (Jones, 1991). Menurut Suryo (1984), pada profase benang-benang kromatin makin menjadi pendek, sehingga menjadi tebal. Terbentuklah kromosom-kromosom. Tiap kromosom lalu membelah memannjang lalu anakan kromosom ini dinamakn kromatid. Dinding inti mulai menghilang. Terbentuknya serat gelondong diantara kedua bidang kutub.

Selama prometafase, selubung nukleus terfragmentasi. Mikrotubula pada gelondong sekarang dapat memasuki nukleus dan berinteraksi dengan kromosom, yang telah menjadi lebih padat. Berkas mikrotubula memanjang dari setiap kutub ke arah pertengahan sel. Masing-masing dari kedua kromatid yang berasal dari satu kromosom sekarang memiliki struktur khsusus kinetokor. Interaksi ini menyebabkan kromosom mulai melakukan gerakan yang tersentak-sentak. Mikrotubula kinetokor berinteraksi dengan mikrotubula dari kutub sel berlawanan. Sentrosom sekarang berada pada kutub yang berlawan dalam sel tersebut. Kromosom berkumpul dalam pelat metafase, suatu bidang khayal yang berjarak sama diantara kedua kutub gelendong. Sentromer dari seluruh kromosom membuat formasi sebaris dan kromatid dari setiap kromosom menjauhi pelat metafase. Untuk setiap kromosom, kinetokor dari kromatid melekat ke mikrotubula yang datang dari kutub berlawanan dalam sel. Seluruh aparatus mikrotubula disebut gelendong karena bentuknya (Campbell, 2002).

Anafase, sentromer membelah dan kedua buah kromatid memisahkan diri dan bergerak menuju ke kutub sel yang berlawanan. Tiap kromatid hasil pembelahan itu memiliki sifat keturunan yang sama. Mulai saat ini kromatid-kromatid itu berlaku sebagai kromosom baru. Telofase, di tiap kutub sel terbentuk stel kromosom yang identik. Serabut gelendong inti lenyap dan dinding inti terbentuk lagi.  Kemudian plasma sel terbagi menjadi dua bagian, proses dimana disebut sitokinesis. Pada sel hewan, sitokinesis ditandai dengan melekuknya sel ke dalam, sedangkan pada tumbuh-tumbuhan karena selnya berdinding, maka sitokinese ditandai dengan terbentuknya dinding pemisah di tengah-tengah sel (Suryo, 1984).

Pada penyelesaian mitosis, kedua nukleus anak berisi kelengkapan kromosom yang identik, hasil pembagian yang sama dari kromatid-kromatid anak yang identik pada anafase. Persekutuan kromatid yang teratur pada piringan metafase dan pembelahan masing-masing sentromer menjadi belahan yang berpindah ke kutub berlawanan dan menjamin bahwa material genetik diturunkan tepat benar dari sel induk ke sel anaknya (Adisoemarto, 1988).

 

 

III.            PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum mitosis ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 24 oktober 2011 di Laboratorium Genetika dan Sitologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas, Padang.

 

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum mitosis ini yaitu, objek glass, cover glass, mikroskop, pipet tetes, tissue, bunsen dan pinset. Sedangkan bahannya yaitu, akar bawang merah (Allium cepa), ekor kecebong, larutan carnoys, acetoocein, HCl dan larutan kolsikin.

 

3.3 Cara Kerja

3.3.1 Sel Tumbuhan

Ujung akar bawang dipotong sepanjang 2 cm dan direndam dengan larutan carnoys. Setelah itu dilakukan maserasi, lalu tetesisi dengan HCl 1 N, dibiarkan selama 15 detik agar jaringan melepaskan sel dan melarutkan middle lame. Sampel yang telah dipanaskan, ditetesi dengan orceto orcein 2% biarkan 15-20 menit. Setelah 20 menit lakukan proses squash yakni penekanan pada preparat yang terlebih dahulu ditutup dengancover glass. Squash  pada preparat menggunakan tissue agar sel menyebar. Preparat yang telah jadi, diamati dibawah mikroskop. Amati proses dari fase-fase mitosis yang terlihat.

 

3.3.2 Sel Hewan

Ekor kecebong dipotong,  biarkan selama 2 hari. Kemudian potong kembali ujung ekor kecebong. Ekor kecebong yang sudah dipotong, diletakkan pada kaca objek dan ditetesi dengan larutan kolkisin 2%, dibiarkan selama 30 menit. Sisa larutan kolkisin diserap dengan tissue. Preparat ditetesi acetoorcein 2&, biarkan selama 30 menit. Tutup dengan kaca penutup, dilapisi dengan tissue. Kemudian squash secara perlahan dan cermat. Lalu diamati pada mikroskop mulai perbesaran terkecil.

 

 

IV.            HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Mitosis Pada Ujung Akar Bawang

Berdasarkan praktikum mitosis pada ujung akar bawang yang dilakukan, didapatkan hasil :

4.1.1 Profase

Gambar 1. Profase                                          Gambar profase, Zacky (2009).

Pada praktikum mitosis pada ujung akar bawang, didapatkan semua fase pembelahan yaitu, fase profase, fase metafase, fase anafase dan fase telofase. Didapatkannya semua fase-fase pembelahan pada ujung akar bawang ini, karena koleksi sampel dilakukan pada pagi hari yang merupakan waktu optimal untuk terjadinya proses pembelahan pada sel, faktor lain juga bisa disebabkan oleh akar yang diambil adalah bagian ujung yang merupakan bagian yang banyak terdapat jaringan meristem yang sangat aktif membelah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Margono (1973), yang menyatakan alasan penggunaan akar pada proses mitosis adalah antara lain karena akar merupakan salah satu jaringan yang sel – sel penyusunnya adalah sel –sel somatik khusus pada ujung akar bawang bersifat meristematik. Mitosis merupakan pembelahan sel yang umumnya terjadi pada sel – sel hidup. Terutama sel – sel yang sedang tumbuh dan sel – sel ini umumnya terdapat pada ujung batang tumbuhan.

Pada gambar 1, profase, dapat kita lihat membran inti hilang dan benang-benang kromatin memadat menjadi kromatid. Menurut Setjo (2004), benang spindel dan mikrotubula terbentuk dalam sitoplasma. Pada awal profase dua pasang sentriol dikelilingi aster, kedua pasang sentriol bermigrasi ke arah yang berlawanan. Menurut Zacky (2009), selama profase, sentrosom bergerak berlawanan satu sama lain dan tampak bergerak sepanjang permukaan inti melalui pemanjangan berkas mikrotubul diantara dua sentrosom. Kemudian kromosom berduplikasi menjadi dua kromatid anak yang sama dan kemudian bergabung pada sentromer. Spindle mitosis terbentuk disitoplasma, tersusun dari mikrotubul dan bergabung dengan  protein, tersusun teratur diantara dua sentrosom.

4.1.2 Metafase

Gambar 2. Metafase                                      Gambar metafase, Zacky (2009).

Pada gambar 2, metafase, dapat diamati kromosom berkumpul di bidang ekuator. Menurut Margono (1973), ciri – ciri metafase adalah kromatid menuju bidang equatorial dan tersusun kromatid menuju bidang equatorial. Kromosom besar ini dipudat dan kecil diperifer. Terdapat gelendong pembelahan (benang – benang spindel) yang membutuhkan sentromer dengan kutub pembelahan.

Untuk setiap kromosom, kinetokor dari permukaan kromatid anak berlawanan kutub sel. Karena itu kromatid yang sama dari setiap kromosom menambat pada mikrotubul kinetokor yang tersusun radier  dari kutub yang berlawanan dari sel induk. Kromosom menggantung pada serat gelendong tersebut lewat sentromernya. Dan semua bergerak kebidang ekuator hingga kromosom terletak pada satu bidang datar (Zacky, 2009).

4.1.3 Anafase

Gambar 3. Anafase                                      Gambar anafase, Zacky (2009).

Pada anafase dapat diamati kromatid ditarik ke kutub yang berlawanan, seperti pada gambar 3. Menurut Suryo (1998), sentromer membelah dan kedua belah kromatid memisahkan diri dan bergerak menuju ke kutub sel yang berlawanan. Tiap kromatid hasil pembelahan itu memiliki sifat keturunan yang sama. Mulai saat ini kromatid – kromatid berlaku sebagai kromosom baru. Anafase membutuhkan waktu 3 – 15 menit.

Sentromer dari setiap kromosom mengganda, sehingga setiap kromatid memiliki sentromer masing-sebagai calon kromosom-masing. Setiap kromatid sekarang dianggap sebagai calon kromosom. Spindle mulai menggerakkan kromatid menuju kutub sel yang berlawanan. Hal ini dikarenakan mikrotubul kinetokor menambat pada sentromer. Mikrotubul kinetokor memendek ketika  kromosom mendekati kutub sel. Pada saat yang bersamaan, kutub dari sel juga bergerak lebih jauh. Akhir dari anaphase kedua kutub sel sama jaraknya dan merupakan kumpulan dari kromosom (Zacky, 2009).

4.1.3 Telofase

Gambar 4. Telofase                                         Gambar telofase, Zacky (2009).

Pasa telofase, gambar 4, dapat dilihat sudah terciptanya dua sel anak terbentuk dinding sel. Menurut Zacky (2009), pada fase ini mikrotubul non-kinetokor selalu memanjang dan anak inti mulai terbentuk pada kedua kutub sel, dan kromosom berada dalam keadaan terhimpun. Membrane inti terbentuk dari potongan-potongan membrane inti sel induk dan bagian lain dari system endomembran.

Dtiap kutub sel terbentuk sel kromosom yang identik. Serabut gelendong inti lenyap dan dinding inti terbentuk lagi. Kemudian plasma sel terbagi menjadi dua bagian, proses ini disebut sitokinesis. Pada sel hewan sitokenesis ditandai dengan melekuknya sel ke dalam, sedangkan pada tumbuh – tumbuhan karena selnya berdinding maka sitokinesis ditandai dengan terbentuknya dinding pemisah ditengah-tengah sel. Biasanya telofase membutuhkan waktu 30 – 60 menit (Suryo, 1998).

 

4.2 Mitosis Pada Ekor Kecebong

Pada praktikum mitosis pada ekor kecebong yang dilakukan, didapatkan semua fase pembelahan yaitu :

4.2.1 Profase

Gambar 5. Profase                                          Gambar profase, Zacky (2009).

Pada ekor kecebong didapatkan semua fase pembelahan, tapi tidak terlihat jelas karena sel hewan yang tidak mempunyai dinding sel. Squash yang tidak merata jga mempengaruhi pengamatan, karena menghasilkan preparat yang apabila diamati dengan mikroskop, fase-fase mitosis tidak terlihat jelas (menumpuk). Pada gambar 5, profase, dapat kita lihat membran inti hilang dan benang-benang kromatin memadat menjadi kromatid. Menurut Yatim (1987), setiap kromosom muncul terdiri atas 2 kromatin (kromosom anak) tapi sentromer masih satu. Karyotheca hilang, kromosom melekat ke serat yang tersusun seperti gelondong disebut serat gelendong. Menurut Crowder (1997), pada profase kromatin menebal, dan memendek. Terbentuklah kromosom-kromosom. Tiap kromosom membelah memanjang. Nucleolus menjadi kabur dan hilang pada akhir profase. Selaput mulai menghilang. Benang gelendong mulai terbentuk, sentriol mulai membelah.

Mitosis adalah proses yang menghasilkan dua sel anak yang identik. Mitosis mempertahankan pasangan kromosom yang sama melalui pembelahan dari sel somatis secara berturut-turut. Mitosis pada tanaman terjadi selama 30 detik sampai beberapa jam. Mitosis berlansung pada semua sel, kecuali pada ssel- sel yang akan menjadi sel kelamin. Proses reproduksi ini juga tergolong ke dalam regenerasi dan penggantian sel pada organisme multiseluler dan dapat kita bagi atas beberapa tahapan (Suryo, 1998).

4.2.2 Metafase

Gambar 6. Metafase                                                Gambar metafase, Zacky (2009).

Pada gambar 6, metafase, dapat diamati kromosom berkumpul di bidang ekuator. Menurut Setjo (2004), bahwa tahap ini diawali dengan prometafase dalam hal ini membran menghilang sempurna. Metafase membutuhkan waktu 2 – 6 menit. Menurut Crowder (1997), pada metafase pada fase ini kromosom berkumpul pada bidang ekuator dari sel. Dinding sel menghilang pada akhir metafase. Sentromer membelah kedua kromatid memisahkan diri dan bergerak menuju kutub yang berlawanan. Kromatid hasil pembelahan ini mempunyai sifat keturunan yang samamulai dari tahap ini. Menurut Suryo (2001), pada metafase, kromosom bergerak menempatkan diri dibidang ekuatorial dari sel. Dinding inti sel menghilang. Pada akhir metafase, sentromer membelah da ujung benang gelendong inti mencapai kromoosm dan memegang sentromer.

4.2.3 Anafase

Gambar 7. Anafase                                          Gambar anafase, Zacky (2009).

Pada anafase dapat diamati kromatid ditarik ke kutub yang berlawanan, seperti pada gambar 3. Menurut Crowder (1997), pada anafase kromosom bergerak kearah kutub, sentromernya tertarik karena kontraksi dari benang gelendong. Terjadinya penyebaran kromosom dan DNA yang seragam di dalam sel. Fase ini merupakan fase terpendek dari  mitosis. Menurut Suryo (2001), pada anafase dapat juga terjadi pembelahan sentromer, yaitu pada anafase awal. Benang gelendong inti memendek, sehingga bahan sentromer masing-masing bergerak kekutub sel yang berlawanan denga membawa kromatid.

 

4.2.4 Telofase

Gambar 8. Telofase                                         Gambar telofase, Zacky (2009).

Pasa telofase, gambar 4, dapat dilihat sudah terciptanya dua sel anak terbentuk dinding sel. Menurut Suryo (2001), fase telofase  pembelahan telah selesai dan terbentuk lagi dinding inti . Sel telah terbagi menjadi 2 sel anakan, masing-masing memiliki inti yang mengandung 4 kromosom dengan bahan genetik yang sama adanya.

Pada telofase benang-benang gelendong hilang dan selaput inti dan nuckleolus terbentuk kembali. Plasma sel rterbagi mnjadi dua bagian yang prosesnya disebut sitogenase. Pada sel hewan sitogenase ditandai dengan molekulnya kedalam sedangkan pada tumbuhan karena sel berdinding maka sel sitogenase ditandai dengan terbentuknya dinding pemisah ditengah-tengah sel. Sel baru itu mempunyai sifat kenampakan seperti interfase (Crowder, 1997).

 

 

 

V.            KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari praktikum yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Pada praktikum mitosis pada ujung akar bawang, didapatkan semua fase pembelahan yaitu, fase profase, fase metafase, fase anafase dan fase telofase.
  2. Pada praktikum mitosis pada ekor kecebong juga didapatkan semua fase pembelahan yaitu, fase profase, fase metafase, fase anafase dan fase telofase.

 

5.2 Saran

Dalam melaksanakan praktikum mitosis ini, disarankan kepada praktikan untuk melakukan squash dengan perlahan dan merata, sehingga preparat lebih mudah diamati. Pada pengamatan pembelahan mitosis ekor kecebong teliti dalam mengamati bagian-bagian pembelahannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ardiawan, A. 2009. Pembelahan Mitosis. Puwokerto : Fakultas Pertanian Unsud.

Ardisoemarto,S. 1988. Genetika Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Campbell, R.M. 2002. Biologi Edisi Kelima jilid I. Jakarta: Erlangga.

Crowder, L,V. 1997. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Jekins, J.B. 1975. Genetics. USA : Hounghton Mifflin Company.

Kimball. J.W. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Margono, H. 1973. Pengaruh Colcinie Terhadap Pertumbuhan Memanjang Akar

bawang Merah (Allium cepa) .Skripsi tidak diterbitkan. Malang : IKIP.

R.N.Jonesand G.K. Rickards. 1991. Practical Genetics. England: John Willey & Soons Ltd.

Setjo, S. 2004. Anatomi Tumbuhan. Malang.

Suryo, 1984. Genetika. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press.

Suryo, 1998. Genetika. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press.

Suryo, 2001. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press.

Yatim, W. 1987. Biologi Modern. Bandung: Tarsito.

Zacky, M. 2009. Siklus Sel. www.oneindoskripsi.com. Diakses 13 Desember 2011.

One comment on “Mitosis

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: