Laporan Kuliah Lapangan

Published Oktober 21, 2012 by putrirajopagaruyuang

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Vertebrata adalah kelompok hewan yang memiliki tulang belakang. Dalam sistem klasifikasi, kelompok tersebut ditempatkan sebagai subfilum Vertebrata dalam filum Chordata. Filum Chordata mempunyai 4 ciri pokok yang muncul pada suatu masa di sepanjang hidupnya. Keempat ciri tersebut adalah sebagai berikut, bagian punggung (dorsal) disokong oleh tulang bernama notokorda, notokorda tersebut terbentuk di dalam embrio dari lapisan mesoderm dorsal, letaknya tepat di bawah batang saraf, tali saraf dorsal (punggung) batang tersebut mengandung kanal berisi cairan, tali saraf vertebrata seringkali dinamakan sumsum punggung yang dilindungi oleh tulang belakang, kantong insang, kantong tersebut hanya terlihat pada saat perkembangan embrio sebagian besar vertebrata, kantong insang pada chordata, invertebrata, ikan dan amphibi berubah menjadi insang, air masuk melalui mulut dan faring melalui celah insang yang dilengkapi dengan lengkung insang. Pada vertebrata terestrial, kantong tersebut mengalami diferensiasi menjadi kelenjar timus dan paratiroid. Ciri selanjutnaya adalah ekor, jika pada masa dewasa tidak ada, maka hanya tampak pada masa embrio (Sudjadi dan Laila, 2004).

Vertebrata terdiri dari tiga bagian tubuh utama, yaitu kepala, badan, dan ekor. Disamping itu, pada bagian badan terdapat pula pasangan anggota tubuh, kecuali pada beberapa jenis yang sama sekali tidak mempunyai anggota tubuh. Leher merupakan bagian yang berbeda antara kepala dan badan, yang terdapat pada hewan reptil, burung dan mamalia. Pada hewan vertebrata terdapatnya mulut dimana adanya rahang dan mekanisme-mekanisme pernafasan menyebabkan bagian-bagian kepala lebih kompleks dibandingkan bagian lainnya. Organ-organ yang tidak memiliki pengganti mesentrium, berada diluar peritoneum parietal. Pada ekor terdapat perpanjangan system syaraf, columna vertebralis, arteri dan vena caudalis (Jafnir, 1985).

Tubuh hewan vertebrata bersifat bilateral simetris (samping kiri dan kanan, ujung anterior dan posterior, permukaan dorsal dan ventral) terdapat juga rongga tubuh atau coelom yang dibatasi oleh mesoderm. Saat masih dalam keadaan embrio, hewan vertebrata mempunyai tiga lapisan jaringan yaitu ektoderm, mesoderm, endoderm, dan bagian didalam yang membatasi rongga usus yang dinamakan entoderm. Saluran pencernaannya sempurna, mulut dan anus telah terpisah. Anus berasal dari suatu lubang permukaan tubuh embrio awal yang disebut blastoporus. Rangka awal vertebrata berasal dari mesoderm, dan mesoderm dibentuk sebagian dari jaringan yang berasal dari usus embrio. Vertebrata terdiri dari beberapa kelas seperti pisces, amphibia, reptilia, aves dan mamalia (Djuhanda, 1983).

Amphibi adalah hewan vertebrata yang hidup pada dua tempat. Amphibi hidup didalam air saat tahap pertumbuhan dan hidup di daratan ketika mereka telah menjadi dewasa. Amphibi berasal dari bahasa yunani yaitu amphibious yang berarti kehidupan ganda yang menggambarkan kehidupannya yang rangkap (Bartlett, 1988).

Reptilia merupakan kelompok hewan yang hidupnya merayap atau merangkak di dalam habitatnya. Reptil juga tergolong ke dalam hewan yang berdarah dingin. Beda reptil dengan amphibi adalah melakukan perbiakan di darat. Tubuh reptil ditutupi oleh sisik-sisik atau plot-plot dari bahan tanduk (horny scales or plates). Reptil merupakan hewan buas. Banyak yang merupakan pemangsa serangga (insektor). Giginya runcing, sering muncul kelenjar racun. Alat gerak reptile berupa kaki. Pada ular, kaki sudah hilang. Alat tubuh yang tidak tumbuh atau menjadi mengecil disebut rudimeter. Ada juga kaki yang berupa sirip untuk berenang (Djuhanda, 1983).

Burung merupakan salah satu kelas hewan vertebrata yang memiliki bentuk tubuh yang khas sehingga dengan bentuk tubuh tersebut kelompok hewan ini terbukti sangat berhasil dalam penyebarannya memperbanyak habitat di permukaan bumi. Kelas aves terbagi dalam dua subkelas yaitu Archeonithes dan Neornithes yang terdiri dari 32 ordo dan 174 famili (Tim Taksonomi Hewan Vertebrata, 2011).

Mamalia merupakan hewan dari kelompok vertebrata yang reproduksinya secara melahirkan dan merupakan hewan yang menyusui. Mamalia memiliki kelenjar mamae yang menghasilkan air susu yang diberikan kepada anak mereka sebagai makanan dan minuman pertama setelah mereka lahir. Yang termasuk mamalia salah satunya adalah manusia atau Homo sapien. Oleh karena itu,bagi manusia yang menarik atau seharusnya yang menarik adalah susunan dan bentuk serta fungsi tubuh mereka sendiri (Radiopoetro,1996).

Keanekaragaman organisme di bumi ini sangat besar bila ditinjau dari berbagai aspek, seperti penampakan (habitus), lingkungan tempat hidup (habitat), perilaku (behavior), dan aspek-aspek lainnya. Khusus untuk hewan, hingga kini tercatat tidak kurang dari 1,4 juta spesies yang telah teridentifikasi, para ahli zoologi memperkirakan sedikitnya 30 kali lipat dari jumlah tersebut masih belum teridentifikasi. Untuk mempermudah dalam mempelajarinya diperlukan suatu cara efektif dan efisien, yang kemudian dikenal dengan klasifikasi (Firdaus, 2007).

Untuk melihat atau mengetahui lebih banyak hewan vertebrata, dapat dilakukan inventarisasi di berbagai tempat Contohnya di Desa Asam Pulau, Lubuk Alung, kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Lokasi ini dipilih karena memungkinkan adanya hewan vertebrata, daerah ini termasuk hutan sekunder. Di sekitar lokasi pengamatan banyak pohon-pohon yang tinggi juga sungai yang cukup deras.

 

1.2 Tujuan

Tujuan dari Kuliah Lapangan ini adalah mengaplikasikan langsung kelapangan materi prarikum yang telah diajarkan dan inventarisasi jenis hewan vertebrata dan menemukan bukti-bukti keberadaan hewan di kawasan Asam Pulau, Lubuk along, kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Kelas Pisces

Pisces berasal dari bahasa latin yang dipakai untuk nama super kelas pada ikan. Ichtyes juga berarti ikan, berasal dari kata  Yunani, dan kata ini dipakai dalam Ichtyology yang berarti ilmu yang mempelajari tentang ikan. Tubuh ikan berskeleton keras, terbungkus oleh kulit yang bersisik, berbentuk seperti torpedo, berenang dengan sirip dan bernafas dengan insang. Bermacam spesies terdapat di dalam air tawar atau air bergaram (Jasin,1992).

Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes) (Kimball, 1991).

Ikan (Pisces) adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes). Ikan dalam berbagai bahasa daerah disebut iwak, jukut (Jasin,1992).

Secara umum ikan dibedakan berdasarkan penyusun rangka tubuhnya, yang dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang sejati (kelas Osteichthyes). Kelompok ikan bertulang sejati mempunyaitulang tengkorak dan tulang rangka serta ruas-ruas tulang belakang (Kimball, 1991).

Superkelas agnatha meliputi hewan-hewan mirip ikan yang telah punah, disebut ostrakoderma (bekulit cangkang). Sebahagian besar tidak memiliki sirip yang berpasangan dan sebenarnya merupakan hewan uang tinggal didasar perairan. Mulut mereka berbentuk bundar atau berupa bukaan mirip celah dan tidak memiliki rahang. Hewan ini kemungkinan adalah penyedot lumpur dan pemakan suspensi yang mengambil sediman dan serpihan bahan organic (Campbell, 2003)

Pisces adalah sebutan umum yang dipakai untuk ikan atau sebagai nama super kelas, dan nama ini diambil dari kata latin. Ichtyes juga berarti ikan, berasal dari kata  Yunani, dan kata ini dipakai dalam Ichtyologi yang berarti ilmu yang mempelajari tentang ikan. Tubuh ikan berskeleton keras, terbungkus oleh kulit yang bersisik, berbentuk seperti torpedo, berenang dengan sirip dan bernafas dengan insang. Bermacam spesies terdapat di dalam air tawar atau air bergaram (Jasin,1992).

Karakteristik Pisces antara lain : kulit banyak glandula mukosa (kelenjar lendir) biasanya tertutup oleh squama (sisik) ekstremitas liberae berwujud sebagai pinae (sirip); mulut biasanya terdapat di ujung kepala, hidung masih berupa fovea nasalis (cekung hidung) terdapat sepasang diatas mulut dan belum mempunyai hubungan dengan rongga mulut (cavum oris), mata relatif besar, tidak mempunyai kelopak mata; jantung terdiri atas dua ruangan yaitu 1 atrium dengan sinus venosus, 1 ventrikel dengan conus arteriosus, jantung hanya berisi darah vennous (mengandung banyak CO2, sedikit O2); pernafasan pada umumnya dengan insang; termasuk dalam golongan poikilotermal, temperatur badan bervariasi dengan lingkungannya; biasanya ovipar dan fertilisasi eksternal (Soewasono, dkk, 1968).

Pada umumnya  hewan vertebrata kelas pisces dibagi menjadi dua kelas, yaitu Osteoichtyes (ikan bertulang sejati) dan Chondricthtyes (ikan bertulang rawan). Kebanyakan ikan dari kelas ini mempunyai tengkorak, vertebrae, gelang anggota, penyokong sirip dan sisik yang kesemuanya dari tulang. Ikan-ikan pada kelas ini hanya satu-satunya vertebrata yang mempunyai bermacam-macam jenis sirip, sisik, dan vertebrae (Djuanda,  1983).

Kelas osteichtyes disebut juga dengan ikan yang bertulang sejati. Tubuh ikan ini diseliputi oleh sisik dan satu-satunya sisa harnas (pelindung) moyang mereka adalah tulang-tulang kranium /kepala untuk mengatasi masalah kekeringan atau dihidrasi yang dialami oleh kelas osteichtyes ini, dilakukan dengan cara mengembangkan kantung faring yang berfungsi sebagai paru-paru primitive (Kimbal, 1991).

Kelas chondrichthyes disebut juga dengan ikan bertulang rawan karena memiliki endoskleton yang relatif lentur yang terbuat dari tulang rawan. Terdapat sekitar 750 spesies yang masih hidup dalam kelas ini, subkelas yang paling besar dan beranekaragam terdiri dari ikan hiu dan ikan pari. Kelas osteichthyes atau ikan bertulang keras, merupakan yang paling banyak jumlahnya baik individu maupun spesies sekitar 30.000. Sangat melimpah di laut dan hampir di setiap habitat air tawar. Memiliki endoskleton dengan matriks kalsium fosfat yang keras, dan umumnya adalah perenang yang dapat mengontrol arah, siripnya yang lentur lebih sesuai pengendalian dan pendorongan dibanding dengan sirip hiu yang kaku (Campbell, 2003).

Ikan merupakan kelompok Vertebrata yang pada umumnya bernafas dengan insang. Insang dimiliki oleh jenis ikan (pisces). Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dare insang berhubungan dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dare sepasang filamen, dan tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler sehingga memungkinkan OZ berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar. Insang pada ikan bertulang sejati ditutupi oleh tutup insang yang disebut operkulum, sedangkan insang pada ikan bertulang rawan tidak ditutupi oleh operculum (Munshi, 1996).

Sebagai salah satu hewan vertebrata, ikan memiliki bentuk simetri bilateral, artinya sisik kanan dan sisik kirinya sama. Ikan memiliki bagian anatomi dasar yang sederhana, yakni berbentuk tabung yang kedua ujungnnya terbuka dengan sebuah saluran makanan yang memanjang dari depan kebelakang. Bagian atas tubuhnya  terdapat punggung yang berupa rangkaian tulang berbentuk piringan dengan bahan tulang keras dan tulang rawan yang menegakkan keseluruhan bagian tubuhnya (Soesono, 1979).

Pisces mempunyai sirip yang penting untuk pergerakannya dan sisik yang berfungsi sebagai penutup tubuhnya. Berdasarkan bentuknya sirip ekor dibedakan atas tipe rounded, truncate, emerginate, lunate dan forked. Berdasarkan bentuk sisik dibedakan atas sisik placoid, ganoid, ctenoid dan cycloid. Tipe mulut berdasarkan letaknya yaitu tipe inferior, superior, terminal dan sub terminal. Bentuk umum tubuh ikan juga bervariasi seperti fusiform, compresiform, depressiform, anguiliform, sagititiform dan globiform. (Tim Taksonomi Hewan Vertebrata, 2011).

Pada ikan dan pada hewan air lainnya pada umumnya bagian tubuh dibagi menjadi tiga bagian yakni bagian kepala, badan dan ekor, namun pada setiap jenis ikan ukuran bagian-bagian tubuh tersebut berbeda-beda tergantung jenis ikannya Adapun organ-organ yang terdapat pada setiap bagian tersebut adalah: 1. Bagian kepala yakni bagian dari ujung mulut terdepan hingga hingga ujung operkulum (tutup insang) paling belakang. Adapun organ yang terdapat pada bagian kepala ini antara lain adalah mulut, rahang, gigi, sungut, cekung hidung, mata, insang, operkulum, otak, jantung, dan pada beberapa ikan terdapat alat pernapasan tambahan, dan sebagainya, 2. Bagian badan yakni dari ujung operkulum (tutup insang) paling belakang sampai pangkal awal sirip belang atau sering dikenal dengan istilah sirip dubur. Organ yang terdapat pada bagian ini antara lain adalah sirip punggung, sirip dada, sirip perut, hati, limpa, empedu, lambung, usus, ginjal, gonad, gelembung renang, dan sebagainya, 3. Bagian ekor, yakni bagian yang berada diantara pangkal awal sirip belakang/dubur sampai dengan ujung terbelakang sirip ekor. Adapun yang ada pada bagian ini antara lain adalah anus, sirip dubur, sirip ekor, dan pada ikan-ikan tertentu terdapat scute dan finlet, dan sebagainya (Ommaneney, 1982).

Antara jenis yang satu dengan jenis lainnya berbeda-beda bentuk tubuhnya . Perbedaan bentuk tubuh ini pada umumnya disebabkan oleh adanya adaptasi terhadap habitat dan cara hidupnya. Adapun bentuk-bentuk tubuh ikan tersebut dibagi dua yakni ikan yang bersifat simetri bilateral dan non simetri bilateral. Selain itu, ada empat jenis mulut ikan yaitu :1. Bentuk seperti tabung (tube like), 2. Bentuk seperti paruh (beak like), 3. Bentuk seperti gergaji (saw like) dan 4. Bentuk seperti terompet. Selain itu posisi mulut pada ikan juga bervariasi tergantung dimana letak habitat makanan yang akan dimakannya. Ada empat macam posisi mulut ikan yakni posisi terminal, sub terminal, inferior dan superior ( Saanin, 1960 ).

 

2.2 Kelas Amphibi

Amphibia umumnya didefinisikan sebagai hewan bertulang belakang (vertebrata) yang hidup didua alam yakni di air dan di daratan. Amfibia bertelur di air atau menyimpan telurnya ditempat yang lembab dan basah. Ketika menetas larvanya yang dinamakan berudu hidup di air atau tempat basah tersebut dan bernafas dengan insang. Setelah beberapa lama, berudu kemudian berubah bentuk (bermetamorfosa) menjadi hewan dewasa, yang umumnya hidup di daratan atau di tempat-tempat yang lebih kering dan bernapasdengan paru-paru (Djuhanda, 1983).

Amphibi merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Pada fase berudu amphibi hidup di perairan dan bernafas dengan insang. Pada fase ini berudu bergerak menggunakan ekor. Pada fase dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-paru. Pada fase dewasa ini amphibi bergerak dengan kaki. Perubahan cara bernafas yang seiring dengan peralihan kehidupan dari perairan ke daratan menyebabkan hilangnya insang dan rangka insang lama kelamaan menghilang. Pada anura, tidak ditemukan leher sebagai mekanisme adaptasi terhadap hidup di dalam liang dan bergerak dengan cara melompat (Zug, 1993).

Amphibi adalah hewan vertebrata yang hidup pada dua tempat. Amphibi hidup didalam air saat tahap pertumbuhan dan hidup di daratan ketika mereka telah menjadi dewasa. Amphibi berasal dari bahasa yunani yaitu amphibious yang berarti kehidupan ganda yang menggambarkan kehidupannya yang rangkap (Bartlett, 1988).

Ampibia mempunyai ciri-ciri yaitu tubuh diselubungi kulit yang berlendir, merupakan hewan berdarah dingin (poikiloterm), mempuyai jantung yang terdiri dari tiga ruangan yaitu dua serambi dan satu bilik, mempunyai dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat selaput renang yang terdapat diantara jari-jari kakinya dan kakinya berfungsi untuk melompat dan berenang, matanya mempunyai selaput tambahan yang disebut membran niktitans yang sangat berfungsi waktu menyelam, pernafasan pada saat masih kecebong berupa insang, setelah dewasa alat pernafasannya berupa paru-paru dan kulit yang hidungnya mempunyai katup yang mencegah air masuk kedalam rongga mulut ketika menyelam, dan berkembang biak dengan cara melepaskan telurnya dan dibuahi oleh yang jantan diluar tubuh induknya atau pembuahan eksternal. Tubuh amphibia khususnya katak, terdiri dari kepala, badan, dan leher yang belum tampak jelas. Sebagian kulit, kecuali pada tempat-tempat tertentu, terlepas dari otot yang ada di dalamnya, sehingga bagian dalam tubuh katak berupa rongga-rongga yang berisi cairan limfa subkutan (Djuhanda, 1983).

Adapun ciri-ciri lain anggota amphibia adalah sebagai berikut: 1) Memilliki anggota gerak yang secara anamotis pentadactylus, kecuali pada apoda yang anggota geraknya tereduksi. 2) Tidak memiliki kuku dan cakar, tetapi ada beberapa anggota amphibia yang pada ujung jarinya mengalami penandukan membentuk kuku dan cakar, contoh Xenopus sp. 3) Kulit memiliki dua kelenjar yaitu kelenjar mukosa dan atau kelenjar berbintil ( biasanya beracun). 4) Pernafasan dengan insang, kulit, paru-paru. 5) Mempunyai sistem pendengaran, yaitu berupa saluran auditory dan dikenal dengan tympanum. 6) Jantung terdiri dari tiga lobi ( 1 ventrikel dan 2 atrium). 7) Mempunyai struktur gigi, yaitu gigi maxilla dan gigi palatum. 8) Merupakan hewan poikiloterm (Duellman and Trueb, 1986).

Kelas amphibia  terbagi menjadi tiga ordo, yang pertama adalah caudata (urodela) merupakan amphibia yang pada saat dewasa, mempunyai ekor, tubuhnya berbentuk seperti kadal. Beberapa jenis dewasa tetap mempunyai insang sedangkan jenis lain insangnya hilang. Tubuh dengan jelas terbagi antara kepala, ekor dan badan. Ordo yang kedua adalah Anura,ordo ini mepunyai ciri-ciri : Pandai melompat, pada hewan dewasa tidak mempunyai ekor, bernafas dengan paru-paru. Kaki dan skeleton dapat tumbuh dengan baik, kepala dan tubuh bersatu, leher tidak jelas dan tidak ada ekor. Kaki depan lebih pendek dari kaki belakang sehingga kaki belakang dapat digunakan untuk melompat. Fertilisasi terjadi secara eksternal, metamorfosis terjadi secara nyata dan mencolok. Antara jari-jari terdapat selaput untuk berenang. Ordo yang ketiga adalah Gymnophiona. Ciri-ciri dari ordo ini adalah memiliki tengkorak yang kompak, banyak vertebrae, rusuk panjang, kulit lunak, dan menghasilkan cairan yang merangsang. Antara mata dan hidung terdapat tentakel yang dapat ditonjolkan dan memiliki ekor yang pendek. Jantan memiliki organ kopulasi yang dapat ditonjolkan keluar. Seperti cacing, tidak berkaki, menggali lubang, Sisik dermal tertanam didalam kulit dan hanya terdapat di daerah tropis (Brotowidjoyo, 1990).

Gymnophiona mempunyai anggota yang ciri umumnya adalah tidak mempunyai kaki sehingga disebut Apoda. Tubuh menyerupai cacing (gilig), bersegmen, tidak bertungkai, dan ekor mereduksi. Hewan ini mempunyai kulit yang kompak, mata tereduksi, tertutup oleh kulit atau tulang, retina pada beberapa spesies berfungsi sebagai fotoreseptor. Di bagian anterior terdapat tentakel yang fungsinya sebagai organ sensory. Kelompok ini menunjukkan 2 bentuk dalam daur hidupnya. Pada fase larva hidup dalam air dan bernafas dengan insang. Pada fase dewasa insang mengalami reduksi, dan biasanya ditemukan di dalam tanah atau di lingkungan akuatik. Fertilisasi pada Caecilia terjadi secara internal  (Duellman and Trueb, 1986).

Amfibi mempunyai potensi yang cukup besar untuk membantu manusia menanggulangi hama serangga. Alasannya, pertama karena pakan utama hampir seluruh jenis amfibi adalah serangga dan larvanya, kedua karena amfibi mudah dijumpai dimana saja. Amfibi ijuga sangat erat kaitannya dengan manusia, diantaranya dalam dunia kedokteran, amfibi telah lama dimanfaatkan untuk tes kehamilan yang banyak dijual di apotik seperti sekarang. Beberapa lembaga penelitian, saat ini tengah melakukan mencari berbagai bahan anti bakteri dari beberapa jenis amfibi yang diketahui memiliki ratusan kelenjar yang terletak di bawah jaringan kulit. Beberapa peneliti juga sedang meneliti kemungkinan memanfaatkan cairan kelenjar dari beberapa jenis amfibi yang biasa lengket untuk digunakan sebagai bahan perekat alami (Djuhanda, 1983).

Amfibia merupakan hewan yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kepekaan ini dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya perubahan lingkungan di sekitarnya. Dampak perubahan lingkungan terlihat pada turunnya populasi yang disertai turunnya keanekaragaman jenis kodok. Contoh amfibia yang terdapat di Indonesia adalah bangsa Gymnophiona (Cecilia), serta bangsa kodok dan katak (Anura). Cecilia adalah semacam amfibia tidak berkaki yang badannya serupa cacing besar atau belut. Satu lagi bangsa amfibia, yang tidak terdapat secara alami di Indonesia, adalah Salamander. Amfibia dari daerah bermusim empat ini bertubuh serupa kadal, namun berkulit licin tanpa sisik. Kelompok hewan ini tetap mempertahankan ekornya sejak dari awal tumbuh (Sofa, 2008).

Amphibia memikili suhu tubuh berubah-ubah sesuai dengan suhu lingkungannya. Biasanya mempunyai tingkat larva yang hidup diair.Kulit hewan ini lembab dan berlendir serta pada umumnya tidak memiliki rambut atau bulu-bulu. Amphibia merupakan perintis dari vertebrata daratan, paru-paru dan tulang yang mereka dapatkan merupakan warisan nenek moyang Krosopterigia (Djuhanda, 1983).

Kelas Amphibi dianggap setingkat lebih tinggi dibandingkan dengan kelas Pisces, hal ini dikarenakan sebagai bentuk peralihan dari kehidupan air ke kehidupan darat. Ciri-ciri dari hewan amphibia ini adalah, mempunyai kulit yang lunak tanpa ditutupi oleh rambut atau bulu, berdarah dingin (poikilotermik), membutuhkan air di dalam siklus hidupnya, habitatnya mencakup mulai dari dekat perairan payau, pemukiman penduduk, hutan belantara, sampai kepada ketinggian 2.500 meter dari permukaan tanah, dan hewan dari kelompok ini dapat dijadikan sebagai indikator lingkungan (Duellman and Trueb, 1986).

Berdasarkan keterangan yang tertera di atas maka muncullah minat yang tinggi untuk mengetahui identifikasi dan morfologi amfibi karena begitu banyak manfaat amfibi bagi kehidupan manusia. Meskipun tingkat ancaman pada amfibi terus meningkat, sampai saat ini belum satupun spesies amfibi Sumatra, bahkan Indonesia, yang masuk dalam daftar satwa terancam kepunahan dari IUCN. Hal ini terjadi karena minimnya data yang berkaitan dengan satu populasi dan daerah sebaran yang terdapat di Indonesia. Faktor ini mengindikasikan bahwa upaya konservasi amfibi yang mutlak dilakukan adalah usaha perlindungan dan pengelolaan habitat yang lebih baik dan efesian juga segera mengupayakan pencegahan spesies amfibi tertentu yang kondisinya rentan dari kepunahan. (Iskandar, 2003).

Metamorfosis dari katak menyangkut tiga proses perubahan, dua diantaranya merupakan perubahan yang drastis, yaitu berupa penciutan bahkan habis sama sekali struktur yang sebelumnya sudah ada. Terbentuknya organ yang baru. Yang tidak tampak dari luar adalah perubahan struktur baru dari organ yang sama yang disesuaikan dengan hewan dewasa, walaupun berlangsungnya singkat. Metamorfosis merupakan suatu masa kritis yang di alami selama terjadinya perubahan dari hewan berhabitat aquatic menjadi terestrial (Duellman dan Trueb 1986).

 

 

2.3 Kelas Reptilia

Teori evolusi tidak mampu menjelaskan asal usul reptil. Ciri-ciri fisiologis reptil sangatlah berbeda dengan amphibi, yang dianggap sebagai nenek moyangnya. Beberapa repti seperti Dinosaurus telah punah tetapi sebagian lagi masih hidup. Tidak ada perbedaan antara fosil reptil purba dengan kerabat mereka yang masih hidup sekarang. Penyu laut berusia  100 juta tahun lalu sama persis dengan kerabat modern sekarang (Harun Yahya, 2002). Kelas reptil suatu kelompok yang beraneka ragam dengan banyak garis keturunan yang sudah punah, saat ini diwakili oleh sekitar 7000 spesies, sebagian besar kadal, ular, penyu atau kura-kura dan buaya. Reptilia jauh lebih menyebar, lebih banyak jumlahnya, dan lebih beraneka ragam selama zaman Mesozoikum dibandingkan sekarang (Campbell, 2003).

Reptilia adalah salah satu hewan kelas vertebrata dalam kelompok hewan yang melata. Kulit diselaputi sisik keras atau kepingan dari bahan tanduk. Pada yang bertubuh besar dibawah sisik ada kepingan tulang, untuk memperkuat daya perlindungan dilengkapi dengan eksoskelet, ekor panjang, jari-jari bercakar, poikiloterm, bernafas dengan paru-paru saja, pembuahan di dalam tubuh dan ovipar. Kromatofora pada beberapa jenis dapat mengembang dan menguncup sehingga warna kulit berubah sesuai dengan keadaan lingkungan didekatnya. Kulit tidak memiliki lendir, anggota berjari lima dan beberapa jenis anggota hilang, memiliki kloaka, kemih dan beberapa jenis asam urat dalam fase padat bergabung dengan tinja dan keluar bersama-sama lewat dubur, tidak minum dan menyesuaikan diri hidup di tempat kering. Terdiri dari empat ordo yaitu Lacertillia (kadal), Ophidia (Ular), Chrocodilia (buaya) dan Chelonia (penyu) (Iskandar, 2003).

Reptilia merupakan kelompok hewan yang hidupnya merayap atau merangkak di dalam habitatnya. Reptil juga tergolong ke dalam hewan yang berdarah dingin. Beda reptil dengan amphibi adalah melakukan perbiakan di darat. Tubuh reptil ditutupi oleh sisik-sisik atau plot-plot dari bahan tanduk (horny scales or plates). Reptil merupakan hewan buas. Banyak yang merupakan pemangsa serangga (insektor). Giginya runcing, sering muncul kelenjar racun. Alat gerak reptile berupa kaki. Pada ular, kaki sudah hilang. Alat tubuh yang tidak tumbuh atau menjadi mengecil disebut rudimeter. Ada juga kaki yang berupa sirip untuk berenang (Djuhanda, 1983).

Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya memiliki 5 jari atau pentadactylus dan setiap jarinya bercakar. Rangkanya pada reptilia mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru (Rodrigues, 2003).

Kelas reptil terdiri dari 4 ordo, yaitu ordo crocodila (buaya dan aligator) terdiri dari 23 species, ordo Rhynchocepalia (tuatara dari selandia baru) terdiri dari 2 species, ordo Squamata (kadal, ular, amphisbaenians) terdiri dari sekitar 7600 species dan ordo testudinata (kura-kura dan penyu) terdiri dari 300 species (Carr, 1977).

Tiga ordo reptilia hidup yang tersebar dan paling beraneka ragam (dengan jumlah total sekitar 6500 spesies) adalah Chelonia (kura-kura), Squmata (kadal dan ular), dan Crocodilia (aligator dan buaya). Kura-kura berkembang selama zaman Mesozoikum dan hanya sedikit berubah sejak saat itu. Kadal dan reptilia yang paling banyak jumlahnya dan paling beraneka ragam yang masih hidup saat ini. Sebagian besar diantaranya berukuran relatif kecil. Ular sebenarnya adalah keturunan kadal yang memakai gaya hidup bersarang dalam lubang. Sedangkan buaya dan aligator merupakan sebagian dari reptiliaa hidup yang paling besar. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam air, dan menghirup udara melalui lubang hidungnya yang membuka ke atas (Campbell, 2003).

Semua Reptil bernafas dengan paru-paru. Jantung pada reptil memiliki 4 lobus, 2 atrium dan 2 ventrikel. Pada beberapa reptil sekat antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri tidak sempurna sehingga darah kotor dan darah bersih masih bisa bercampur. Reptil merupakan hewan berdarah dingin yaitu suhu tubuhnya bergantung pada suhu lingkungan atau poikiloterm. Untuk mengatur suhu tubuhnya, reptil melakukan mekanisme basking yaitu berjemur di bawah sinar matahari. Saluran ekskresi Kelas Reptilia berakhir pada kloaka. Ada dua tipe kloaka yang spesifik untuk ordo-ordo reptilia. Kloaka dengan celah melintang terdapat pada Ordo Squamata yaitu Sub-ordo Lacertilia dan Sub-ordo Ophidia. Kloaka dengan celah membujur yaitu terdapat pada Ordo Chelonia dan Ordo Crocodilia. (Zug, 1993).

Squamata dibedakan menjadi 3 sub ordo yaitu Subordo Lacertilia atau Sauria, Subordo Serpentes atau Ophidia dan Subordo Amphisbaenia. Adapun ciri-ciri umum anggota ordo Squamata antara lain tubuhnya ditutupi oleh sisik yang terbuat dari bahan tanduk. Sisik ini mengalami pergantian secara periodik yang disebut molting. Sebelum mengelupas, stratum germinativum membentuk lapisan kultikula baru di bawah lapisan yang lama.Pada Subordo Ophidia, kulit atau sisiknya terkelupas secara keseluruhan, sedangkan pada Subordo Lacertilia, sisiknya terkelupas sebagian.Bentuk dan susunan sisik-sisik ini penting sekali sebagai dasar klasifikasi karena polanya cenderung tetap. Pada ular sisik ventral melebar ke arah transversal, sedangkan pada tokek sisik mereduksi menjadi tonjolan atau tuberkulum (Rodrigues, 2003).

 

Ordo Chelonia memiliki ciri-ciri tubuh bulat pipih dan umumnya relatif besar, terbungkus oleh perisai.Perisai sebelah dorsal cembung disebut carapace, sedang perisai di sebelah ventral datar disebut plastron.Kedua bagian perisai ini digabungkan pada bagian lateral bawah, dibungkus oleh kulit dengan lapisan tanduk yang tebal.Hewan ini tidak memiliki gigi, tapi rahang berkulit tanduk sebagai gantinya.Tulang kuadrat pada cranium mempunyai hubungan bebas dengan rahang bawah, sehingga rahang bawah mudah digerakkan.Tulang rahang bagian belakang thorax dan tulang rusuk biasanya menjadi satu dengan perisai, ovipar, telur yang diletakkan dalam lubang pasir atau tanah.Extremitas sebagai alat gerak, baik di darat ataupun air. Kloaka dapat berfungsi dalam  pernafasan di air (Marthey, 1997).

Ordo Rhynchocephalia yang masih hidup sampai sekarang mempunyai bentuk seperti kadal, berkulit tanduk dan bersisik, bergranula dan punggungnya memiliki duri yang pendek.Tulang rahang mudah digerakkan. Columna vertebralisnya adalah amphicoela, memiliki costae abdominalis.Spesies ini tidak terdapat di Indonesia.Contoh yang masih hidup sampai sekarang adalah Sphenodon punctatum atau sering disebut dengan Tuatura.Spesies ini memiliki panjang kurang lebih tiga puluh inchi (Iskandar, 2003).

Ada lebih dari 6500 jenis Reptilia. Kebanyakan dari hewan yang bersisik dan berdarah dingin itu hidup di darat. Ada beberapa jenis Reptilia yang melahirkan anaknya. Di antaranya ada beberapa jenis Kadal yang mana betinanya dapat melahirkan tanpa perkawinan. Ada sekitar 150 jenis Kadal dan Cacing, mereka menyukai tanah yang lembab. Jika tanahnya terlalu kering, Kadal dan Cacing akan mengalami dehidrasi. Dan reptitlia bernapas dengan paru-paru, berkaki empat dan sebagian besar bereproduksi dengan cara bertelur (ovipar) yang embrionya diselaputi oleh membrane amniotik (Amniota) walaupun ada beberapa spesies tertentu yang melahirkan (vivipar) serta yang menjadi ciri khas pada kelas reptil adalah seluruh tubuhnya ditutupi oleh kulit kering berupa sisik.  Sisik yang menutupi tubuh reptil dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat melakukan pergantian kulit baik secara total pada anggota sub-ordo Ophidia dan pengelupasa sebagian pada anggota sub-ordo Lacertilia.  Khusus pada ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pengelupasan atau pergantian  mati (Kimball, 1991).

Habitat dari Kelas Reptilia ini bermacam-macam. Ada yang merupakan hewan akuatik seperi penyu dan beberapa jenis ular, semi akuatik yaitu Ordo Crocodilia dan beberapa anggota Ordo Chelonia, beberapa Sub-ordo Ophidia, terrestrial yaitu pada kebanyakan Sub-kelas Lacertilia dan Ophidia, bebepapa anggota Ordo Testudinata, sub terran pada sebagian kecil anggota Sub-kelas Ophidia, dan arboreal pada sebagian kecil Sub-ordo Ophidia dan Lacertilia (Iskandar, 2003).

Reptilia merupakan sekelompok vertebrata yang menysuaikan diri di tempat yang kering. Penandukan untuk menjaga banyak hilangnya cairan tubuh pada tempat yang kering. Namun kelas ini diambil dari cara hewan berjalan yaitu reptum yang artinya melata tau merayap. Study tentang reptil disebut Herpetology (Jasin,1992)

 

2.4 Kelas Aves

Aves adalah hewan vertebrata dengan tubuh ditutup oleh bulu sedangkan hewan lainnya tidak ada yang mempunyai bulu. Aves dapat terbang karena mempunyai sayap yang merupakan modifikasi dari alat gerak anterior. Sayap pada aves berasal dari elemen-elemen  tubuh tengah dan distal. Kaki pada aves digunakan untuk berjalan, bertengger atau berenang dengan selaput inter digital (Mukayat,1990).

Kata aves berasal dari latin dipakai nama kelas, sedangkan ornis dari kata yunani dipakai dalam “Ornithology” berarti ilmu yang mempelajari burung-burung. Aves merupakan hewan yang paling dikenal orang karena dilihat dimana-mana, aktif pada siang hari dan ada juga pada malam hari serta unik, karena memiliki bulu sebagai penutup tubuh. Dengan bulu ini tubuh dapat mengatur suhu tubuhnya dan terbang. Dengan kemampuan terbang itu aves mendiami semua habitat. Warna dan suara beberapa aves merupakan daya tarik mata dan telingan manusia. Banyak diantaranya mempunyai arti penting dalam ekonomi, sebagian merupakan bahan makanan sumber protein dan beberapa diantaranya diternakkan (Jasin, 1992).

Burung diperkirakan berkembang dari sejenis reptil di masa lalu yang mempunyai cakar depan memendek dan terdapat bulu di seluruh tubuhnya. Pada awalnya sayap primitif merupakan perkembangan dari tungkai depan. Saat ini buurnh berkembang sedemikian rupa sehingga terspesialisasi untuk terbang jauh dengan pengecualian pada beberapa burung primitif. Bulu-bulunya tersusun sedemikian rupa sehingga mampu menolak air dan memelihara tubuh agar tetap hangat di tengah udara dingin. Tulangnya ringan karena ada rongga-rongga udara di dalamnya, tulang dada membesar dam memipih. Giginya memnghilang digantikan oleh paruh. Kesemuanya ini menjadikan burung lebih mudah dan lebih pandai terbang sehingga mampu mengunjungi berbagai tipe habitat di muka bumi (Campbell, 2003).

Evolusionis menyatakan bahwa burung berevolusi dari reptil dinosaurus berukuran kecil. Namun, setelah burung dan reptil dibandingkan, diketahui kedua kelas makhluk hidup ini sangatlah berbeda satu dari yang lain, dan evolusi apa pun tidak mungkin terjadi di antara keduanya. Terdapat banyak perbedaan struktural antara burung dan reptil. Salah satu yang terpenting adalah struktur rangka mereka. Dinosaurus, yang menurut evolusionis dikatakan sebagai nenek moyang burung, memiliki rangka besar dan padat dikarenakan struktur mereka yang kokoh. Sedangkan burung yang masih hidup dan yang telah punah memiliki rangka berongga dan, karenanya, sangat ringan. Struktur rangka ringan ini sangatlah penting bagi penerbangan burung. Perbedaan penting lain antara burung dan reptil adalah struktur metabolisme mereka. Reptil memiliki laju metabolisme paling lambat di antara makhluk hidup lainnya, sedangkan pada burung malah paling cepat. Sebagai contoh, panas tubuh seekor burung gereja dapat mencapai 48°C karena metabolismenya yang cepat. Sebaliknya, reptil tidak mampu menghasilkan panas tubuh mereka sendiri dan, sebagai gantinya, berjemur di bawah sinar matahari. Reptil adalah hewan pengguna energi paling sedikit di alam, sedangkan burung adalah binatang pemakai energi terbesar (Harun Yahya, 2003).

Penyebaran aves di dunia ini mencapai 9000 jenis dan ada pula yang mengatakan 8900 jenis. Habitatnya tersebar mulai dari tepi pantai sampai ke pegunungan. Aves aktif di siang hari (ada juga pada malam hari) dan memiliki bulu sebagai penutup tubuh. Keunikan lain dari aves ini adalah pundi-pundi udara yang dimiliki oleh burung yang berguna membantu pernapasan di saat terbang. Banyak diantara aves yang memiliki nilai ekonomi karena bentuk dan suara yang indah dan juga dijadikan peternakan untuk kemudian dikonsumsi sebagai sumber konsumsi protein (Jasin, 1992).

Burung merupakan hewan berdarah panas, meskipun  burung burung berdarah panas, ia berkerabat dekat dengan reptil. Bersama kerabatnya terdekat, suku Crocodylidae alias keluarga buaya, burung membentuk kelompok hewan yang disebut Archosauria. Diperkirakan burung berkembang dari sejenis reptil di masa lalu, yang memendek cakar depannya dan tumbuh bulu-bulu yang khusus di badannya. Pada awalnya, sayap primitif yang merupakan perkembangan dari cakar depan itu belum dapat digunakan untuk sungguh-sungguh terbang, dan hanya membantunya untuk bisa melayang dari suatu ketinggian ke tempat yang lebih rendah (Jasin, 1992).

Kelas aves terdiri dari begitu banyak ordo yang dikenal baik karakteristiknya, yaitu Sub kelas Archaeornithes, yang merupakan burung yang bergigi dan telah punah, hidup dalam periode Jurasik dengan metacarpal terpisah, tidak ada pigostil, vertebrate caudal masing-masing dengan bulu yang berpasangan dan Sub kelas Neornithes yang merupakan burung modern, bergigi atau tidak bergigi, metacarpal bersatu, vertebrate caudal tidak ada yang mempunyai bulu berpasangan dan kebanyakan pigostil (Brotowidjoyo,1990).

Ahli burung terkenal, Alan Feduccia, menyatakan bahwa “setiap ciri dari bulu burung memiliki fungsi aerodinamis. Bulu ini sangatlah ringan, memiliki daya angkat yang semakin besar pada kecepatan lebih rendah, dan dapat kembali ke posisi awal dengan sangat mudah” (Harun Yahya, 2003).

Caudal berfungsi sebagai pengemudi dan sebagai suatu permukaan untuk penyokong pada waktu terbang walaupun tidak digunakan langsung sebagai pendorong. Pergerakan aves terutama dijalankan oleh sayap dan kaki. Pada prinsipnya sehubungan dengan cara bergeraknya pada berbagai spesies burung tidak sama maka modifikasi yang terjadi pada skeleton dan elemen-elemen musculus pada berbagai spesies burung juga tidak sama. Pada gerakan bipedal titik gravitasi harus terletak diatas kaki atau tepatnya diantara dua kaki. Luas permukaan yang bersinggungan dengan tanah mereduksi sedangkan digiti bertambah panjang untuk mencegah hilangnya keseimbangan (Radiopoetro, 1996).

Kaki pada aves digunakan untuk berjalan, bertengger atau berenang (dengan selaput inter digital). Karakter tengkorak meliputi tulang-tulang tengkorak yang berdifusi kuat, paruh berzat tanduk. Aves tidak bergigi, mata besar, kondil oksipetal tunggal. Jantung terbagi atas dua aurikel dan ventrikel (Brotowidjoyo, 1990).

Banyak diantara aves yang memiliki nilai ekonomi karena bentuk dan suara yang indah dan juga dijadikan peternakan untuk kemudian dikonsumsi sebagai sumber konsumsi protein. Aves aktif di siang hari (ada juga pada malam hari) dan memiliki tubuh sebagai penutup tubuh. Habitat burung tersebar mulai dari tepi pantai sampai ke pegunungan. Keunikan lain dari pundi-pundi udara yang dimiliki oleh burung yang berguna membantu pernapasan di saat terbang (Jasin, 1992).

Struktur tubuh burung terdiri atas kepala (caput), leher (cervix), bagian badan (truncus), dengan sepanjang ekstremitas anterior yang merupakan sayap (ala), dsan ekstremitas posterior berupa paha (femur), tungkai atas (tibiotartus), tungkai bawah (tarsometarsus) yang bagian bawahnya bersisik dan bercakar. Pasa bagian mulut terdapat paruh (rostrum) yang terbentuk oleh maxila pada ruang bagian atas, mandibula pada bagian bawah . pada bagian luar rostrum dilapisi oleh lapisan pembungkus selaput zat tanduk. Tubuh dibungkus oleh kulit, pada bagian kulit terdapat bulu yang berfungsi sebagai pembungkus tubuh (Jasin, 1992).

Perbedaan burung dengan hewan lain adalah paruh dan bulu. Bulu pada burung sangat kuat dan ringan, membuat tubuhnya aerodinamis sehingga dapat terbang. Bulu juga sangat rapi membungkus tubuhnya menjadi bagian yang sangat tahan air (Mackinnon, 1991).

Tubuh burung dilapisi oleh bulu, salah satu yang paling penting adalah bulu sayap. Pada bagian sayap tersebut, bulu dapat dibagi menjadi bulu primer (primary plumage), bulu sekunder (secondary plumage), bulu tersier (tertiary) dan bulu belikat (scapulars). Bulu sayap tersebut sangat penting untuk diketahui karena dapt membantu mengidentifikasi genus, jenis, jenis kelamin bahkan umur dari seekor burung (Mackinon,1991).

 

2.5 Kelas Mamalia

Mammalia adalah vertebrata yang tubuhnya tertutup oleh rambut. Memiliki kelenjar mamae yang aktif menghasilkan susu, terutama pada saat menyusui, karakter ini menjadi pembeda antara kelas mammalia dengan kelas animalia lainnya. Mammalogi adalah bagian dari ilmu biologi yang mempelajari tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan mammalia (Brotowidjoyo, 1990).

Sebutan mamalia sendiri berasal dari keberadaan glandula ( kelenjar ) mamae pada tubuh mereka yang berfungsi sebagai penyuplai susu. Seperti yang kita ketahui bahwa mamalia betina menyusui anaknya dengan memanfaatkan keberadaan kelenjar tersebut. Walaupun mamalia jantan tidak menyusui anaknya, bukan berarti mereka tidak memiliki kelenjar mamae. Semua mamalia memiliki kelenjar mamae , tetapi pada mamalia jantan kelenjar ini tidaklah berfungsi sebagaimana pada mamalia betina (Jafnir, 1985).

Mamalia merupakan hewan dari kelompok vertebrata yang reproduksinya secara melahirkan dan merupakan hewan yang menyusui. Mamalia memiliki kelenjar mamae yang menghasilkan air susu yang diberikan kepada anak mereka sebagai makanan dan minuman pertama setelah mereka lahir. Yang termasuk mamalia salah satunya adalah manusia atau Homo sapien. Oleh karena itu,bagi manusia yang menarik atau seharusnya yang menarik adalah susunan dan bentuk serta fungsi tubuh mereka sendiri (Radiopoetro, 1996).

Mammalia memiliki ciri anatomi dengan empat tungkai, dua dibelakang dan dua di depan, sayap atau tangan. Kebanyakan mammalia memiliki bulu atau rambut, walaupun untuk mammalia rambutnya jarang dan tidak mencolok. Semua jenis ini berdarah panas dan hampir semuanya memiliki ciri anatomi tubuh bagian dalam yang umum (Payne et al, 2000).

Pada mamalia umumnya dapat dibedakan dengan nyata, bagian caput, truncus dan cauda. Caput dihubungkan dengan truncus oleh leher. Pada Homo sapiens extern tidak ada cauda, tetapi intern masih ada vertebrae yang membentuknya, walaupun  jumlahnya hanya tiga dan telah mengalai reduksi. Tubuh atau kulit ditutupi oleh rambut yang halus, capillus yang menyerupai empat kaki yang disebut dengan tetrapoda (Radiopoetra, 1996).

Mamalia memiliki 3 tulang pendengaran dalam setiap telinga dan 1 tulang (dentari) di setiap sisi rahang bawah. Vertebrata lain yang memiliki telinga hanya memiliki 1 tulang pendengaran (yaitu, stapes) dalam setiap telinga dan paling tidak 3 tulang lain di setiap sisi rahang. Mamalia memiliki integumen yang terdiri dari 3 lapisan: paling luar adalah epidermis, yang tengah adalah dermis, dan paling dalam adalah hipodermis. Epidermis biasanya terdiri atas 30 lapis sel yang berfungsi menjadi lapisan tahan air. Sel-sel terluar dari lapisan epidermis ini sering terkelupas; epidermis bagian paling dalam sering membelah dan sel anakannya terdorong ke atas (ke arah luar). Bagian tengah, dermis, memiliki ketebalan 15-40 kali dibanding epidermis. Dermis terdiri dari berbagai komponen seperti pembuluh darah dan kelenjar. Hipodermis tersusun atas jaringan adiposa dan berfungsi untuk menyimpan lemak, penahan benturan, dan insulasi. Ketebalan lapisan ini bervariasi pada setiap spesies (Carleton, 1984)

Secara umum ciri-ciri dari mamalia adalah banyak memiliki kelenjar, yaitu kelenjar keringat, kelenjar bau dan kelenjar mamae, memiliki rambut, melahirkan anak, gigi umumnya heterodont, terdiri dari dua set gigi, yaitu gigi susu dan gigi permanent, mempunyai daun telinga, rangkanya mengalami penyederhanaan, mempunyai cerebrae-cortex yang telah mengalami pengembangan, serta mempunyai anus dan bukan kloaka. Mamalia merupakan salah satu hewan vertebrata yang berperan penting dalam kelansungan dan kelestarian alam semesta. Dalam kelas mamalia ini ditemukan dua subkelas yaitu Prototheria yang dibagi kedalam satu ordo saja yaitu Monotremata, dan subkelas Theria yang memiliki 17 ordo, diantaranya yaitu Rodentia, Chiroptera, Marsupialia, Insectivora dan lain-lain (Alikodra, 2002).

Mamalia diperkirakan muncul pada akhir zaman Trias dari moyang Terapsida. Mereka merupakan hewan kecil yang sangat aktif yang makanannya terutama adalah serangga. Kehidupan yang aktif ini berhubungan dengan kemampuan untuk memelihara suhu tubuh yang tetap (homoterm). Seperti halnya dengan burung,hal ini berkaitan dengan perkembangan jantung beruang empatdan pemisahan sempurna dari peredaran darah oksigen dan sistemik. Konservasi panas tubuh dimungkinkan dengan perkembangan rambut. Sementara mamalia yang paling awal bertelur seperti moyang reptilia anaknya setelah menetas diberi susu yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar dalam kulit induknya (Kimball,1991).

Mamalia terdiri dari beberapa ordo, diantaranya, 1) Insectivora, contohnya cecurut, tikus mondok, 2) Edentata : armadillo, 3) Chiroptera, merupakan satu-satunya ordo dari mamalia yang bisa terbang. Terdiri dari 18 famili, 202 genus, dan 1116 spesies. Ciri-ciri dari ordo ini tangan termodifikasi menjadi sayap. Makanannya 70% insectivorous, Carnivorous, dan Frugivorous. Hewan ini penyebarannya luas, polinator dan disperser. Hidup secara nocturnal dan koloni. Mempunyai alat pendengaran yang sangat tajam. Contohnya : kelelawar, 4) Rodentia, tersebar diseluruh permukaan bumi kecuali Antartika. 40% dari mamalia terolong kedalam ordo ini. Terdiri dari 33 famili, 481 genera, dan 227 spesies. Merupakan hewan pemakan biji, buah-buahan, tumbuhan, dan sering dikatetgorikan sebagai hama. Contohnya dari famili Hystricidae, Sciuridae, dan Muridae : bajing, tikus, mencit, berang-berang, 5) Lagomorpha, terdiri dari 3 famili, 13 genera, 92 spesies. Hewan ini mempunyai 4 buah gigi seri dan merupakan hewam herbivor. Contohnya : kelinci, terwelu, 6) Karnivora, merupakan hewan yang memiliki taring berbntuk conical, terdiri dari 15 famili, 126 genus dan 286 spesies. Hidup secara terestrial, juga mempunyai cakar. Makanannya carnivor, omnivor dan herbivor. Contohnya : singa laut, kucing, anjing, walrus, hyena, 7) Ungulata : zebra, kuda, badak, unta, rusa besar,  jerapah, bison, domba, kuda nil, 8) Cetacea, tubuh berbentuk fussiform, anggota gerak berupa sirip hampir tidak berambut sama sekali. Terdiri dari 14 famili, 40 genus, 84 spesies dan ukurannya sangat bervariasi. Makanannya berupa Protozoa, Crustacea, ikan kecil dan anjing laut. Komunikasinya Ecolocation, bunyi dan nyanyian. Paru-paru beradaptasi untuk bernafas didalam air. Contohnya : paus, lumba-lumba, 9) Sirenia, merupakan kelompok duyung yang terdiri dari 2 famili, 3 genus dan 5 spesies. Hewan ini merupakan hewan mamalia akuatik yang herbivor. Habitatnya sungai, muara, dan pesisir pantai. Bentuk tubuh fussiform dan memiliki lemak yang sangat banyak. Paru-paru tidak berlobus tetapi pipih disepanjang tulang belakang. Contohnya: manatee, dugong, 10) Proboscieda, merupakan mamalia darat terbesar, hanya memiliki satu famili, 2 genus dan 3 spesies. Hewan ini tergolog hewan herbivor, dan hidup berkelompok. Contohnya : gajah, 11) Aardvarks, 12) Primata, seluruh hewan yang termasuk primata memiliki lima jari, pandangan yang menghadap kedepan dan berwarna. Terdiri dari 15 famili, 69 genus, 376 spesies. Contohnya : monyet, kera, manusia, lemur (Kimball, 1991).

Gigi pada mamalia mengalami spesialisasi untuk memotong(gigi seri) menyobek (gigi taring),dan menggiling (gigi geraham) makanannya. Bahan kelabu serebrum,yang ditutupi oleh bahan putih pada reptilia. Evolusi pada mamalia yang paling awal mulai berlangsung  mulai beberapa jalur yang berbeda. Beberpa jenis  dari mamalia yaitu: Monotremata, mamalia yang bertelur (subklas: Prothotria). Marsupialia, mamalia berkantung (subklass Methatria). Mamalia berplasenta (Subklas Eutheria) (Kimball,1991).

Gigi mamalia umumnya terbagi menjadi empat tipe: gigi seri, taring, premolar, dan molar. Ada 3 buah osikel auditori, yaitu malleus, inkus, dan stapes. Akhir organ pendengaran (koklea ) berstruktur sangat kompleks dan sedikit banyak bergelung. Pada telinga terdapat suatu auditori eksternal dan pinna ( teling luar ) pada tiap sisi lateral kepala. Dibanding dengan kondisi vertebrata lainnya, jumlah tengkorak mammalia banyak yang tereduksi. Ada 2 kondil oksipital. Vertebrae servikal biasnaya 7 buah. Dalam sabuk pektoral tidak terdapat tulang korakoid, dan klavikula vestigial atau tidak ada sama sekali. Ekor jika ada, panjang dan dapat digerakkan (Brotowidjoyo, 1990).

Anggota gerak mammalia sangat teradaptasi dengan bentuk kehidupan dan habitatnya masing-masing. Sehingga tipe gerak hewan mammalia dapat dibedakan menjadi plantigrade (berjalan di atas tanah seperti beruang), cursorial (pelari cepat seperti rusa), swimming (aquatic), saltorial (pelompat seperti kanguru), fossorial (hidup pada lubang) (Jasin, 1992).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. PELAKSANAAN KULIAH LAPANGAN

 

 

3.1 Waktu dan tempat

Pelaksanaan kuliah lapangan ini diadakan pada tanggal 29 April sampai 1 Mei 2011 di Desa Asam pulau, Kecamatan Lubuk Alung, kabupaten Padang pariaman, Sumatera Barat.

 

3.2 Alat dan bahan

Alat-alat yang digunakan pada Kuliah Lapangan Taksonomi Hewan Vertebrata adalah small mammal trap, mist net, fish trap, teropong bicular, parang, sarung tangan, senter, head lamp, botol film, plastik  ukuran 2 dan 5 kg, vernier caliper, plastik transparan, senter, botol sampel, kompas, label tempel, label gantung, buku panduan, buku catatan lapangan, alat-alat tulis, karet gelang, terpal 4 m, pancang, ember/kaleng cat bekas, sabun cream, tali rafia dan spidol permanen. Bahan-bahan yang digunakan adalah pisang, bungkil kelapa, ikan asin, formalin 4 %, kloroform dan alkohol  70  %.

 

3.3 Cara kerja

3.3.1 Di lapangan

3.3.1.1 Fish trap

Cara penggunaan Fishtrap adalah dibuka tutupnya, diikatkan pelet sebagai umpan ikan didalam Fish Trap kemuddian diletakkan pada tempat yang diperkirakan jalur ikan atau dipasangkan menghadap mengarah ke arah datangnya arus. Tali yang ada pada fish trap digunakan untuk penahan yang di ikatkan ke batang pohon terdekat. hal ini bertujuan agar alat yang kita pasang ini tidak hanyut. Pemasangan dilakukan pada siang hari dengan 3 tempat dan dicek menurut jadwal kelompok secara bergiliran.

 

3.1.1.2 Pit fall trap

Terpal direntangkan pada tiang yang telah ditancapkan ke dalam tanah, kemudian dibenamkan ember yang telah dilubangi bagian bawahnya supaya air yang masuk bisa keluar dengan mudah dan tidak tergenang dalam ember sampai. Ember dibenamkan sejajar dengan permukaan tanah dengan cara meletakkannya selang-seling. Kemudian bagian pinggir ember dioleskan dengan sabun cream agar hewan yang terperangkap tidak bisa keluar lagi, sedangkan bagian dalamnya diberi sarasah.

 

3.3.1.3. Banier survey method

Dilakukan pada areal banir pohon dengan cara membersihkan serasah, kayu lapuk, dan semua yang ada di dalamnya diangkat secara perlahan-lahan sambil mengamati hewan yang ada disekitar pohon-pohon yang dicakup. Setelah sampel hewan ditangkap lalu diidentifikasi dengan buku panduan yang ada atau bertanya pada asisten.

 

3.3.1.4 Metoda tangkap langsung

Cara kerja metoda ini adalah menangkap langsung hewan vertebrata. Metoda ini biasanya  dilakukan pada malam hari dengan cara menyusuri sungai atau badan perairan yang diperkirakan dihuni oleh hewan–hewan vertebrata. Penangkapan hewan vertebrata dilakukan dengan mengarahkankan sumber cahaya ke arah mata hewan untuk membutakann dan langsung ditangkap dengan tangan.

 

3.3.1.5. Mac Kinnon Method

Metoda ini dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis burung yang tidak bisa ditangkap dengan menggunakan mist net. Pengamat berjalan dipinggir hutan atau lokasi lain yang cukup representatif. Setiap jenis yang terlihat atau terdengar dan bisa diidentifikasi dicatat didalam tabel yang baru untuk mencatat jenis-jenis berikutnya. Jenis-jenis burung yang pernah dicatat pada tabel sebelumnya, kalau terlihat kembali boleh dimasukkan pada tabel kedua atau seterusnya. Amati dengan menggunakan teropong jenis-jenis yang ada pada tempat tersebut, berikut dengan ciri-cirinya yang menyolok, kegiatan yang dilakukan dan sebagainya. Bandingkan hasil pengamatan yang dilakukan dengan kelompok lain yang melakukan pada lokasi berbeda. Setelah sampel didapatkan, dilakukan pengidentifikasian dengan menggunakan buku panduan lapangan  kelas Aves.

 

3.3.1.6. Metoda auditory sensus

Sebelum melakukan sensus, suara hewan tersebut harus dikenali dengan baik. Biasanya dilakukan pada hewan-hewan yang bersuara nyaring dan suaranya dapat didengarkan dari jarak jauh. Pengamat berada pada suatu tempat yang diperkirakan dapat mendengarkan suara hewan dengan cukup jelas. Pengamatan dilakukan pada saat hewan banyak melakukan aktifitas bersuara yaitu antara pukul 06.00-08.00. Ditentukan  setiap arah datangnya suara dari pengamat. Diperkirakan jarak masing-masing dari sumber suara.

 

 

3.1.1.7 Tracking

Survey lapangan ini digunakan untuk pengamatan semua jenis hewan vertebrata. Pengamat dibagi dalam kelompok kelompok besar massing-masing kelompok dipandu oleh asisten dengan jalur yang berbeda. Pengamat berjalan disepanjang jalur yang telah ditentukan. Perhatikan tanda-tanda keberadaan hewan mamalia dengan cermat. Dicatat kondisi lapangan mamalia dimana ditemukan tanda-tanda tersebut. Dilakukan pengkoleksian terhadap sisa-sisa keberadaaan hewan. Khusus untuk jejak dilakukan pengukuran sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan, kemudian dibuat gambar sketsa jejak dengan kertas transparan dan selanjutnya diidentifikasi di laboratorium.

 

3.1.1.8 Mist net

Jala kabut dipasang dengan cara menancapkan kayu atau bambu ke tanah dan net diikat ke kayu. Jala kabut direntangkan pada jalur yang diduga sering dilewati oleh hewan yang dijadikan sarana tangkapan. Pengamatan dilakukan setiap 60 menit sekali secara bergiliran menurut jadwal dari kelompok masing-masing. Setelah sampel hewan ditangkap lalu identifikasi dengan buku panduan yang ada atau bertanya pada asisten lalu sampel hewan dilepaskan kembali ke habitatnya.

 

3.1.1.9 Small mamals trap

Perangkap ini termasuk ke dalam metoda pasif. Bagian-bagiannya yaitu, pintu tempat memasukkan umpan dan mengeluarkan target. Kunci dan penahan pintu agar hewan yang didapat tidak bisa keluar lagi. Umpan diletakkan di ujung pengait. Umpan yang digunakan adalah ikan asin dan bungkit kelapa. Mengeluarkan hewan yang terperangkap dengan cara memasukkan hewan tersebut ke air sampai mati atau pingsan kemudian dikeluarkan. Pemasangan small mammal trap dipasang di semak-semak. Pemasangan dilakukan permukaan tanah sesuaikan dengan keberadaan hewan target  perangkap.

 

3.3.2 Di Laboratorium

Dari semua sampel hewan yang telah didapatkan, dilakukan pengukuran terhadap parameter sebagai berikut : Pada kelas Pisce: Panjang Total (PT), Panjang Standar (PS), Tinggi Badan (TB), Lebar Kepala (LK), Diameter Mata (DM), Panjang Ekor (PE), Tinggi Batang Ekor (TBE), Panjang Sirip Dorsal (PSD), Panjang Sirip Pectoral (PSP), Panjang Sirip Perut (PSP), tipe sisik dan tipe sirip.

Pada kelas Amphibia: Panjang Total (PT), Panjang Standar (PS), Diameter Tympanum (DT), Panjang Tibia Fibula (PTB), Diameter Mata (DM), Panjang Femur (PF), Jarak Inter Orbital (JIO), Jarak Internares (JIN), urutan kaki depan dan kaki belakang, serta ada atau tidaknya processus odontoid pada mandibula dan tutupan selaput renang.

Sedangkan untuk kelas Aves parameter pengukuran Panjang Total (PT), Panjang Standar (PS), Panjang Sayap (PS), Panjang Paruh (PP) dan Panjang Tarsus (PT), selain itu diidentifikasi juga tipe kaki, tipe cakar, tipe paruh. Untuk deskripsi secara umum, dilihat dari warna bagian kepala, warna punggung, warna bagian ekor, tipe gigi, tipe ekor, tipe mulut, dan tipe lainnya dan buat klasifikasinya sesuai literatur yang ada.

Pada kelas Reptilia: Panjang Total (PT), Panjang Standar (PS), Tipe Badan (TB), Diameter Mata (DM), Panjang Ekor (PE), Pre Ocular (PO), Sub Ocular (SO), Parietal (P), Pre-frontal (PF), Tipe Sisik (TS),Tipe Kepala (TK) dan warna tubuh.

Pada kelas Mamalia: Panjang Total (PT), Panjang Standar (PS), Panjng Kepala (KP), Panjang Ekor (PE), panjang Telinga (T), Lengan Bawah (LB),warna rambut dan jumlah gigi.  Lalu dilakukan pengerasan jaringan pada specimen tertentu seperti hewan amphibi, pisces, dan mamalia yang yang telah dibersihkan dan dimasukkan ke dalam botol berisi formalin 4 % sebagai bahan awetan permanen kemudian diberi label.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari kegiatan Kuliah Lapangan Vertebrata yang telah dilaksanakan pad tanggal 29 April sampai 1 Mei 2011 di Desa Asam Pulau, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Pariaman  maka  didapatkan hasil sebagai berikut :

 

4.1 Kelas Pisces

Pada kelas pisces, penangkapan dilakukan dengan metode fish trap. Pada metode fish trap  didapatkan satu jenis ikan yaitu:

Klasifikasi

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Pisces

Ordo                : Siluriformes

Famili              : Sisoridae

Genus              : Glyphotorax

Spesies            : Glyphotorax platyfogon Valenciennes, 1840 (Anonimous, 2011a)

Glyphorax sp memiliki panjang badan (PB) 40,25 mm, panjang total (PT) 48,25 mm, tinggi badan (TB) 6,5 mm, panjang batang ekor (PBE) 5,5 mm, tinggi batang ekor (TBE) 4,15 mm, panjang sirip pectoral (PSP) 8,5 mm, panjang dasar sirip pectoral (PDSP) 4,1 mm, panjang dasar sirip ekor (PDSE) 4,5 mm, panjang sirip dorsal (PSD) 7,3 mm, panjang sirip pelvic (PSPel) 7,3 mm, lebar badan (LB) 8,3 mm, mempunyai alat untuk menempel di bagian ventral.

 

4.2 Kelas Amphibi

Pada kelas amphibi penangkapan dilakukan dengan 2 metode yaitu night visual encounter dan pit fall trap. Pada metoda pit fall trap tidak didapatkan Amphibi. Hal ini mungkin disebabkan lokasi tempat pemasangan pit fall trap yang tidak representatif untuk penangkapan Amphibi dan curah hujan yang tinggi serta pemasangan terpal yang tidak terlalu panjang sehingga pagar pengarah pit fall trap tidak efektif untuk penangkapan Amphibi. Sedangkan dari metode Night Visual encounter didapatkan tiga jenis amphibi yaitu Rana erythrea, Fejervarya limnocaris dan Polypedates leucomistac. Metode Night Visual encounter dilakukan pada malam hari di sekitar lokasi perkemahan dan pada saat itu cuaca kurang mendukung.

 

4.2.1 Rana erythrea

Klasifikasi dari Rana erythrea  ini adalah :

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Amphibia

Ordo                : Anura

Famili              : Ranidae

Genus              : Rana

Species            : Rana erythraea Schlegel, 1837 (Inger, 1966)

Rana erythraea yang didapatkan memiliki panjang badan (PB) 42 mm,lebar kepala (LK) 13,10 mm, panjang kepala (PK) 13 mm, diameter tymphanum (DT) 3 mm, panjang kaki depan (PKD) 24 mm, panjang kaki belakang (PKB) 66 mm, diameter mata (DM) 3 mm, panjang tibia fibula (PTF) 23 mm, panjang femur (PF) 12 mm, panjang moncong (PM) 7 mm, jarak inter orbital (JIO) 9 mm, jarak inter nares (JIN) 3 mm. Selain itu juga diukur urutan panjang kaki depan (UPJKD 3>4>2>1 dan urutan panjang kaki belakang (UPJKB) 4>5>3>2>1, memiliki gigi former, selaput renang tidak penuh, bentuk ujung jari licin, warna punggung hijau dan habitat semi aquatik

Famili ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relatif ramping. Tungkai relatif panjang dan diantara jari-jarinya terdapat selaput untuk membantu berenang. Kulitnya halus, licin dan ada beberapa yang berbintil. Gelang bahu bertipe firmisternal. Pada kepala tidak ada pematang seperti pada Bufo. Mulutnya lebar dan terdapat gigi seperti parut di bagian maxillanya. Sacral diapophysis gilig. Fertilisasi secara eksternal dan bersifat ovipar (Eprilurahman, 2007 ).

 

4.2.2 Fejervarya limnocaris

Klasifikasi dari Fejervarya limnocaris ini adalah:

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Amphibia

Ordo                : Anura

Famili              : Ranidae

Genus              : Fejervarya

Species            : Fejervarya limnocarisGaravehost, 1829 ( Iskandar, 2003 )

Fejervarya limnocarisyang didapatkan memiliki panjang badan (PB) 49,12 mm,lebar kepala (LK) 15 mm, diameter tymphanum (DT) 3 mm, panjang kaki depan (PKD) 19,04 mm, panjang kaki belakang (PKB) 61,28 mm, diameter mata (DM) 5 mm, panjang tibia fibula (PTF) 26,14 mm, panjang femur (PF) 22 mm, panjang moncong (PM) 7,26 mm, jarak inter orbital (JIO) 4 mm, jarak inter nares (JIN) 3,10 mm. Selain itu juga diukur urutan panjang kaki depan (UPJKD) 3>1>4>2,  urutan panjang kaki belakang (UPJKB) 2>3>1>4>5, memiliki prosesus odontoid, memiliki gigi former, selaput renang penuh, bentuk ujung jari licin, memiliki nuptialpad, warna punggung coklat belang hitam dan habitat teristrial.

Hewan ini merupakan katak kecil, bertubuh pendek dan berkepala meruncing. Panjang fejervarya jantan sekitar 30-50 mm, yang betina sampai dengan 60 mm. Punggung berwarna coklat lumpur, dengan bercak-bercak gelap simetris, terkadang membentuk huruf W atau H disekitar belikat. Pada beberapa jenis bercampur dengan warna hijau atau kehijauan, kemerahan, keemasan, atau memiliki garis vetebral putih. Perut dan sisi bawah tubuh putih. Pada katak jantan terdapat pola huruf M kehitaman di dagu, di atas kantung suarayang berwarna daging. Sisi samping tubuh dan sisi belakang paha dengan bercak-bercak hitam serupa doreng. Tangan dan kaki dengan coreng-coreng hitam. Bibir berbelang hitam. Kulit punggung dengan lipatan-lipatan memanjang tak beraturan, seperti pematang deretan bintil panjang, atau seperti bukit-bukit kecil memanjang. Sepasang lipatan kulit memanjang dari belakang mata, setidaknya atas timpanum (gendang telinga), hingga ke bahu. Kaki berselaput setengahnya, setidaknya satu (pada jari keempat;dua) ruas paling ujung bebas dari selaput renang. Bintil metatarsal sebelah dalam berbentuk oval dan menonjol, sementara metatarsal luar membulat dan rendah, kebanyakan malah hanya serupa bintik kecil (Boulenger, 1980).

 

4.2.3 Polypedates leucomistac

Klasifikasi dari Polypedates leucomystac ini adalah :

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Amphibia

Ordo                : Anura

Famili              : Rhacophoridae

Genus              : Polypedates

Species            : Polypedates leucomystac

Polypedates leucomistac yang didapatkan memiliki panjang badan (PB) 40 mm,lebar kepala (LK) 12,12 mm, diameter tymphanum (DT) 5 mm, panjang kaki depan (PKD) 17 mm, panjang kaki belakang (PKB) 57,28 mm, diameter mata (DM) 5 mm, panjang tibia fibula (PTF) 21,14 mm, panjang femur (PF) 18 mm, panjang moncong (PM) 8,12 mm, jarak inter orbital (JIO) 4,6 mm, jarak inter nares (JIN) 3,6 mm. Selain itu juga diukur urutan panjang kaki depan (UPJKD) 4>3>1>2 dan urutan panjang kaki belakang (UPJKB) 4>5>3>2>1, memiliki prosesus odontoid, memiliki gigi former, selaput renang penuh, bentuk ujung jari licin, warnan punggung hijau, habitat semi aquatic.

Polypedates leucomystax adalah umumnya katak pohon kecil sampai menengah, dengan jantan rata-rata 50 mm panjang total rata-rata dan panjang total betina 80 mm. Warna leucomystax variabel coklat, mulai dari cokelat pucat ke kuning-cokelat, cokelat kemerahan, coklat abu-abu coklat, atau gelap. Bentuk polos juga terlihat tetapi tidak sebagaimana biasanya. Namun, di Bali, bentuk yang paling umum adalah polos, tanpa pola (McKay, 2006).

Perkembangbiakan sepanjang tahun di beberapa bagian dari rentang seperti utara Kalimantan dan bagian basah Bali. Namun, di daerah kering seperti Bali utara, perkembangbiakan dibatasi ke awal musim hujan. Jantan berkumpul di air diam atau bergerak lambat, atau genangan air, dan panggilan dari tepi atau posisi tinggi pada vegetasi. Sarang berupa busa mengukur sekitar 10 cm dan dibangun pada vegetasi di atas kolam fana atau melekat ke permukaan dengan tepi air. Penetasan terjadi setelah tiga sampai empat hari, terjadi pada tahap insang eksternal (McKay, 2006).

 

4.3  Kelas Reptil

Pada kelas reptil penangkapan dilakukan dengan metode Night Visual Ecounter dan metode Tracking. Pada metode Night Visual Ecounter hanya didapatkan satu hewan reptil sedangkan pada metode Tracking didapatkan satu ekor bunglon.

4.3.1 Dendrelaphis pictus

Klasifikasi

Kingdom    : Animalia

Filum         : Chordata

Kelas          : Reptilia

Ordo           : Squamata

Sub Ordo    : Serpentes

Family        : Colubridae

Genus         : Dendrelaphis

Spesies       : Dendrelaphis pictus Gmelin, 1789

Dendrelaphis pictusadalah memiliki panjang badan (PB) 712 mm, luas kepala (LK) panjang kepala (PK) 15 mm, panjang ekor (PE) 15 mm, panjanng total (PT) 742 mm, diameter mata (DM) 3 mm, panjang moncong (PM) 12 mm,  bentuk kepala (BK) medium , bentuk rostal (BR) bulat, bentuk pupil (BP) rounded, bentuk tubuh (BT) silinder, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, sisik temporal (ST) ada, sisik loreal (SL) ada, loreal pit (LP) tidak ada. Dendrelaphis pictusmemiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 6 buah, jumlah sisik supra okuler (JSSO) 3 buah, jumlah sisik infra labial (JSIL) 10 buah, jumlah sisik supra labial (JSSL) 9 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 11 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 174 buah, dan jumlah sisik ekor (JSE) 143 buah.

Dendrelaphis pictusmerupakan ular yang kurus ramping, panjang hingga sekitar 800 sampai 1500, ekornya panjang, mencapai sepertiga dari panjang tubuh keseluruhan.Dendrelaphis pictus mempunyai warna tubuh coklat zaitun seperti logam perunggu di bagian punggung. Pada masing-masing sisi tubuh bagian bawah terdapat pita tipis kuning terang keputihan, dipisahkan dari sisik ventral (perut) yang sewarna oleh sebuah garis hitam tipis memanjang hingga ke ekor. Kepala kecoklatan perunggu di sebelah atas, dan kuning terang di bibir dan dagu, diantarai oleh coret hitam mulai dari pipi yang melintasi mata dan melebar di pelipis belakang, kemudian terpecah menjadi noktah-noktah besar dan mengabur di leher bagian belakang. Terdapat warna-warna peringatan berupa bintik-bintik hijau terang kebiruan di bagian leher hingga tubuh bagian muka, yang biasanya tersembunyi di bawah sisik-sisik hitam atau perunggu dan baru nampak jelas apabila si ular merasa terancam. Sisik-sisik ventral putih kekuningan atau kehijauan (Djuhanda, 1983).

Sisik-sisik dorsal dalam 15 deret di bagian tengah tubuh, sisik-sisik vertebral membesar, namun tak lebih besar dari deret sisik dorsal yang pertama (terbawah). Perisai labial 9 buah (jarang 8 atau 10), yang no 5 dan 6 (kadang-kadang juga yang no 4) menyentuh mata. Sisik-sisik ventral 167–200 buah, sisik anal sepasang, sisik-sisik subkaudal (bawah ekor) 127–164 buah. Mata besar, diameternya sama panjang dengan jaraknya ke lubang hidung. Anak mata bulat hitam; perisai preokular sebuah dan postokular dua buah. Perisai rostral lebar, terlihat dari sebelah atas; perisai internasal sama panjang atau sedikit lebih pendek dari perisai prefrontal; perisai frontal sama panjang dengan jaraknya ke ujung moncong, namun lebih pendek dari perisai parietal; perisai loreal panjang. Perisai temporal bersusun 2 + 2, 1 + 1 atau 1 + 2. Lidahnya berwarna merah (Iskandar, 2003).

Dendralapis picta menghuni hutan-hutan di dataran rendah dan pegunungan hingga ketinggian lebih dari 1350 m. Teristimewa ular ini menyukai daerah-daerah terbuka, tepian hutan, kebun, semak belukar dan tepi sawah. Sering pula ditemukan merambat di pagar tanaman di pekarangan, dan dengan gesit dan tangkas bergerak di sela-sela daun dan ranting untuk menghindari manusia. Dendrelapis picta aktif pada siang hari, mencari mangsa makanannya – terutama kadal dan katak (Pope, 1956).

 

4.3.2 Bronchocela jubata

Klasifikasi

Kingdom    : Animalia

Filum         : Chordata

Kelas          : Reptilia

Ordo           : Sauria

Family        : Agamidae

Genus         : Bronchocela

Spesies       : Bronchocela jubata Dumeril & Bibron, 1837 (Anonimous,2011b)

Bunglon berukuran sedang, berekor panjang menjuntai. Panjang total hingga 550 mm dan empat-perlimanya adalah ekor. Gerigi di tengkuk dan punggungnya lebih menyerupai surai (“jubata” artinya bersurai) daripada bentuk mahkota, tidak seperti kerabat dekatnya B. cristatella (crista: jambul, mahkota). Gerigi ini terdiri dari banyak sisik yang pipih panjang meruncing namun lunak serupa kulit (Anonimous,2011b).

Sisik-sisik bunglon surai keras, kasar, berlunas kuat; ekornya terasa bersegi-segi. Perkecualiannya adalah sisik-sisik jambul, yang tidak berlunas dan agak lunak serupa kulit.

Kepalanya bersegi-segi dan bersudut. Dagu dengan kantung lebar, bertulang lunak. Mata dikelilingi pelupuk yang cukup lebar, lentur, tersusun dari sisik-sisik berupa bintik-bintik halus yang indah. Dorsal (sisi atas tubuh) berwarna hijau muda sampai hijau tua, yang bisa berubah menjadi coklat sampai kehitaman bila merasa terganggu. Sebuah bercak coklat kemerahan serupa karat terdapat di belakang mulut di bawah timpanum. Deretan bercak serupa itu, yang seringkali menyatu menjadi coretan-coretan, terdapat di bahu dan di sisi lateral bagian depan; semakin ke belakang semakin kabur warnanya. Sisi ventral (sisi bawah tubuh) kekuningan sampai keputihan di dagu, leher, perut dan sisi bawah kaki. Telapak tangan dan kaki coklat kekuningan. Ekor di pangkal berwarna hijau belang-belang kebiruan, ke belakang makin kecoklatan kusam dengan belang-belang keputihan di ujungnya (Anonimous,2011b).

4.4 Kelas Aves

Pengamatan burung dari kuliah lapangan ini dilakukan dengan beberapa metoda, yaitu metode Mac Kinnon, digiscoping dan mist net. Dengan menggunakan metode Mac Kinnon banyak jenis burung yang dapat diamati dibandingkan dengan penggunaan mist net. Pada metode mist net tidak ada jenis burung yang tertangkap.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Desa Asam Pulau, Pariaman, jenis-jenis burung yang didapatkan dengan metoda MacKinnon dan digiscoping adalah Prinia familiaris.

Klasifikasi :

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Aves

Ordo                : Passeriformes

Family             : Cisticolidae

Genus              : Prinia

Species            : Prinia familiaris Horsfield, 1821 (Anonimous,2011c)

Prinia familiaris berukuran agak besar, berwarna zaitun. Ekor panjang, dengan garis sayap putih khas serta ujung hitam putih. Tubuh bagian atas coklat-zaitun, tenggorokan dan dada tengah putih; sisi dada dan sisi tubuh abu-abu, perut dan tungging kuning pucat. Iris coklat, paruh atas hitam, paruh bawah kekuningan, kaki merah jambu (Anonimous,2011c).

Prinia familiaris memiliki ukuran fisik yang tergolong kecil, hanya sekitar 12 cm terhitung dari ujung paruh hingga ekor. Memiliki bulu punggung berwarna hijau ke abu abuan dengan bagian ujung ekor bermotif totol kehitaman tipis. Pada bagian punggung ada dua macam warna. Untuk tipe ciblek tegalan/ kebun dicirikan dengan warna dada putih sedangkan ciblek sawah berwarna abu abu agak gelap. Ciblek dada putih memiliki intonasi yang panjang, keras dan lebih melengking dengan suara bersuara cap..cap..cap… sedangkan ciblek sawah berbunyi cip..cip..cip… Paruh burung ciblek berbentuk runcing dan kecil dengan bagian atas kehitaman dan bawah kekuningan. Kakinya sangat rapuh berwarna coklat kemerahan (Anonimous,2011c).

 

4.5 Kelas Mamalia

Pada metoda Small Mammal Trap menggunakan umpan ikan asin dan daging kelapa yang dibakar dan diletakkan di area semak-semak. Pada perangkap ini tidak ada objek yang  terperangkap. Pada medium mammal trap menggunakan umpan ikan, perangkap diletakkan di pinggir hutan. Pada medium mammal trap juga tidak didapatkan objek.  Hal ini disebabkan karena selama pemasangan perangkap cuaca dingin dan curah hujan yang tinggi.

 

4.5.1 Macaca vasicularis

Klasifikasi

Kingdom         : Animalia

FIlum              : Chordata

Kelas               : Mammalia

Ordo                : Primates

Family             : Cercopithecidae

Genus              : Macaca

Species            : Macaca fascicularis

Macaca fasicularis ini dilihat pada saat melakukan tracking. Macaca vasicularis yang terlihat sebanyak 7 ekor, memiliki warna abu-abu.

Panjang tubuh kera dewasa sekitar 40-50 cm belum termasuk ekor dengan berat 3 -7 kg. Sementara panjang ekor 1 hingga 1,5 kali panjang tubuh berikut kepala dengan warna coklat keabu-abuan atau kemerah-merahan. Bulunya berwarna coklat abu-abu hingga coklat kemerahan sedangkan wajahnya berwarna abu-abu kecoklatan dengan jambang di pipi berwarna abu-abu, terkadang terdapat jambul di atas kepala. Hidungnya datar dengan ujung hidung menyempit. Kera ini memiliki gigi seri berbentuk sekop, gigi taring dan geraham untuk mengunyah makanan (Wolfheim,1983).

Kera ini merupakan jenis satwa yang hidup berkelompok, dimana bisa mencapai hingga 30 ekor dalam tiap kelompok. Biasanya dalam setiap kelompok ada seekor adult male (jantan dewasa) yang menjadi pemimpin dan mendominasi anggota yang lain. Hirarki dalam komunitasnya ditentukan oleh beberapa faktor seperti usia, ukuran tubuh dan keahlian berkelahi. Mereka memasuki masa kawin pada umur enam tahun untuk pejantan dan empat tahun untuk betina. Jangan harap ada kesetiaan dalam komunitas ini. Karena pejantan biasanya kawin dengan banyak betina (Wolfheim,1983).

 

4.5.2 Symphalangus syndactylus

Klasifikasi

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Mammalia

Ordo                : Primates

Famili              : Hylobatidae

Genus              : Hylobates

Spesies            : Hylobates syndactylus Raffles, 1821 (Fleagle, 1988)

Siamang (Hylobates syndactylus) ini ditemukan dengan metode auditory sensus pada pukul 06:21 WIB, 640 ke utara ± 800 m dari pengamat dan ± 2-3 individu.

Siamang adalah kera hitam yang berlengan panjang, dan hidup pada pohon-pohon.Pada umumnya, siamang sangat tangkas saat bergerak di atas pohon, sehingga tidak ada predator yang bisa menangkap mereka. Siamang merupakan spesies terancam, karena deforestasi habitatnya cepat. Siamang tidak memliki ekor dan memiliki postur tubuh yang kurang tegak. Siamang juga memiliki perkembangan otak yang tinggi. Siamang berwarna hitam agak cokelat kemerahan. Kera ini memiliki anyaman antara jari kedua dan ketiga (Fleagle, 1988).

Spesies ini memiliki lengan yang relatif kuat yang membantu dalam perilaku bergerak. Spesies ini memiliki kantung tenggorokan terletak di bawah dagu untuk membantu meningkatkan panggilan. Siamang tidak memiliki ekor,ata-rata berat tubuh siamang jantan dewasa adalah sekitar 10,9 kilogram, dan untuk betina itu adalah sekitar 10,6 kilogram. Warna siamang adalah hitam. Kantung tenggorokan memiliki warna merah muda atau abu-abu itu (Fleagle, 1988).

 

4.5.3    Capricormes sumatraensis

Pada metoda melacak jejak didapatkan satu jenis jejak yaitu kambing hutan (Capricormes sumatraensis). Klasifikasinya adalah  sebagai berikut :

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Mamalia

Ordo                : Artiodactyla

Famili              : Bofidae

Genus              : Capricormes

Spesies            : Capricormes sumatraensis Beichstein 1799 Alamendah, 2009

Jejak Capricormes sumatraensis ini memiliki straddle 150.00 mm, step 500.00 mm, stride 150.00 mm, kedalaman jejak 25.00 mm, panjang jejak 50.00 mm, lebar jejak 45.00 mm, lebar kuku 10.00 mm. Dilihat dari jejak yang ditinggalkan, kambing ini diperkirakan berjenis kelamin jantan, berat tubuh ± 250 kg, tinggi badan 1 m.

Ciri khas Kambing Hutan Sumatera (Capricornis sumatraensis sumatraensis) ini adalah bertanduk ramping, pendek dan melengkung ke belakang. Berat badannya antara 50 – 140 kg dengan panjang badannya mencapai antara 140 – 180 cm. Tingginya bila dewasa mencapai antara 85 – 94 cm (Alamendah, 2009).

Pada dasarnya kambing hutan berbeda dengan kambing yang diternakkan, karena kambing hutan merupakan perpaduan antara kambing dengan antelop dan masih mempunyai hubungan dekat dengan kerbau. Kambing hutan merupakan satwa yang sangat tangkas dan sering terlihat memanjat dengan cepat di lereng terjal yang biasanya hanya  bisa dicapai oleh manusia dengan bantuan tali (Alamendah, 2009).

Kambing Hutan Sumatera ini mempunyai habitat di hutan-hutan pegunungan dataran tinggi sumatera. Populasinya yang masih tersisa terdapat di Taman Nasional Kerinci Seblat (Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan) juga dapat ditemukan di Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) yang secara administratif berlokasi di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Provinsi Sumatera Utara dan Taman Nasional Gunung Leuser (Nanggroe Aceh Darussalam) (Alamendah, 2009).

 

 

 

 

V.KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1.Kesimpulan

Adapun keismpulan dari kuliah lapangan yang telah dilaksanakan adalah:

  1. Kelas Pisces, pada metode fish trap ditemukan satu jenis yaitu Glyphotorax platyfogon.
  2. Kelas amfhibi, ditemukan pada metode Night Visual Encounter dengan tiga jenis amphibi yaitu: Rana erythrea, Fejervarya limnocaris dan Polypedates leucomistac.
  3. 3.      Kelas Reptil, ditemukan pada metode Night Visual Encounter dengan satu jenis reptil yaitu Dendrelaphis pictus, dan pada metode Tracking satu jenis reptil yaitu Bronchocela jubata.
  4. Kelas aves, ditemukan pada metode digiscoping satu jenis yaitu Prinia familiaris.
  5. Kelas Mammalia, ditemukan pada metode digiscoping dua jenis yaitu Macaca fascicularis dan Hylobates syndactylus. Pada metode melacak jejak ditemukan satu jenis yaitu Capricormes sumatraensis.

 

5.2 Saran

Dalam melakukan kuliah lapangan ini, disarankan kepada praktikan untuk memahami dan mengerti semua metoda lapangan yang akan dilakukan selama kuliah lapangan, hati-hati dan teliti saat mengamati sampeldan memncatat hal-halpenting untukpengidentifikasian sampel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: