air sebagai komponen tumbuhan

Published Mei 19, 2012 by putrirajopagaruyuang
  1. PENDAHULUAN

1.1              Teori

Fisiologi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari fungsi tumbuhan, dan ilmu yang menghubungkan proses dari respon tumbuhan terhadap perubahan lingkungan, serta pertumbuhan morfologi tumbuhan. Tumbuhan bukanlah benda mati, meskipun kadang-kadang tampaknya demikian. Mempelajari fisiologi tumbuhan akan menambah kekaguman kita akan banyak hal, seperti air dan bahan terlarut bergerak melalui lintasan pengangkutan yang khusus, air dari tanah merambat melalui akar, batang dan daun ke atmosfir. Fisiologi tumbuhan mengkaji pembuahan, yaitu ketika tumbuhan baru mulai sebagai zigot, sampai tumbuhan itu mati, yang mungkin bisa ribuan tahun lamanya: proses. Pembentukan bunga pada musim bunga dan pengguguran daun pada musim gugur, fisiologi tumbuhan, seperti halnya cabang ilmu biologi lain, mempelajari proses kehidupan yang sering mirip atau identik pada banyak organisme (Salisbury et al, 1995).

Air merupakan bagian dari semua sel, jumlahnya bervariasi tergantung dari jaringannya. Air merupakan sistem pelarut dari sel dan memberikam medium untuk pengangkutan dalam tanah. Air dapat mempertahankan turgor yang sangat perlu dalam kerumitan transpirasi dan pertunbuhan tanaman ( Harjadi, 1979 ).

Molekul air dan zat terlarut yang berada dalam sel selalu bergerak. Oleh karena itu terjadi perpindahan terus-menerus dari molekul air, dari satu bagian ke bagian yang lain. Pada keadaan seimbang hasil akhir dari pergerakan molekul-molekul di dalam suatu medium ini tidak akan menimbulkan efek apapun. Akan tetapi bila keadaan tidak seimbang atau lebih banyak molekul akan bergerak ke satu arah dan sebaliknya akan menimbulkan difusi, atau dengan kata lain difusi merupakan pergerakan molekul sejenis dari daerah konsentrasi timggi ke konsentrasi rendah (Bidwell, 1979).

Proses fisika difusi (dengan osmosis sebagai bagian khususnya) mempunyai peranan yang sangat penting pada fisiologi tumbuhan, sehingga pengertian yang jelas mengenai proses ini perlu sekali untuk diketahui dan juga agar mudah dimengerti beberapa sifat umum materi harus diperhatikan. Telah diketahui bahwa semua zat baik unsur maupun senyawa pada hakikatnya tersusun atas partikel-partikel kecil yang memiliki dua sifat umum yang penting yaitu kemampuan untuk bergerak bebas dan kecenderungan bagi partikel yang sama untuk tarik menarik. Kemampuan untuk bergerak bebas cenderung untuk memisahkan partikel penyusun suatu zat, sedangkan gaya tarik-menarik cenderung untuk mempersatukan partikel-partikel itu (Loveles,1991).

Difusi suatu substansi melintasi membran biologis disebut transpor pasif, karena sel tidak harus mengeluarkan energi untuk membuat hal itu terjadi. Gradien konsentrasi itu sendiri merupakan energi potensial dan mengarahkan difusi. Akan tetapi, harus diingat bahwa membran itu permeabel selektif sehingga mempengaruhi laju difusi berbagai molekul. Suatu molekul yang berdifusi secara bebas melintasi sebagian besar membran ialah ialah air, suatu kenyataan yang memiliki akibat penting bagi sel. (Campbell dan Reece, 2002).

Definit tekanan difusi adalah perbedaan difusi antara larutan dengan pelarut murni pada tekanan yang sama. Hal ini sangat erat hubungannya dengan tekanan osmosa dan tekanan turgor. Misalnya kentang yang berisi larutan gula dimasukkan ke dalam bejana yang berisi air murni (dalam hal ini kentangnya harus bersifat simepermeabel). Sebelum terjadi difusi dari air ke dalam kentang, gula dimasukkan ke dalam bejana, maka DTD di dalam kentang dan demikian pula dengan tekanan osmosanya. Sedangkan tekanan turgornya adalah serendah-rendahnya atau nol. Dengan masuknya air dalam kentang maka tekanan osmotiknya menurun, sehingga DTDnya menurun dan tekanan turgornya naik (Dwijoseputro, 1985).

Ketika selaput semipermeabel memisahkan air murni dari larutan, hanya air yang bisa masuk lewat pori dan larutan akan keluar. Difusi ini terjadi karena perbedaan potensial kimia. Menciptakan penekanan yang menghasilkan adanya aliran massa di sepanjang pori selaput tersebut. (Wilkins, 1984).

Arah osmosis ditentukan hanya ditentukan oleh perbedaan konsentrasi zat terlarut total. Air berpindah dari larutan hipotonik ke hipertonik sekalipun larutan hipotoniknya memiliki lebih banyak jenis zat terlarut. Air laut, yang memiliki zat terlarut yang sangat beragam, molekul airnya akan bergerak ke larutan gula tunggal yang sangat tinggi konsentrasinya, karena konsentrasi total zat terlarut air laut lebih rendah. Jika dua larutan bersifat isotonik, air berpindah melintasi membran yang memisahk larutan-larutan tersebut pada laju yang sama untuk kedua arah (kea rah kanan maupun kiri) dengan kata lain, tidak terdapat selisih osmosis di larutan-larutan isotonik (Campbell dan Reece, 2002).

Jika di satu sisi membran ada larutan dan di sisi lainnya ada larutan lain yang berbeda konsentrasinya, maka osmosis akan berlangsung. Larutan yang lebih pekat mempunyai potensial air yang lebih rendah (lebih negatif), jadi air akan berdifusi ke daerahnya dari larutan lain sampai tekanannya naik ke suatu titik, yaitu sampai potensial airnya sama dengan potensial-air larutan yang kurang pekat. Hal ini mungkin terjadi bila keduanya mempunyai wadah. Jika difusi berlangsung menuju larutan yang tidak berwadah, maka pergerakan ini akan terus berlangsung sampai larutan yang lebih pekat diencerkan, yaitu sampai potensial airnya sama dengan potensial-air larutan di sisi lain membran. Pada saat itu, kedua larutan mempunyai potensial air bernilai negatif yang sama. Kesetimbangan pun tercapai (Salisbury et al, 1995).

Keadaan fisiologis aktif dalam satu individu sel dan seluruh sel-sel dalam tumbuhan bergantung pada beberapa keadaan yang relative konstan, salah satunya adalah keseimbangan air. Suatu ketika apabila pada waktu perkembangannya, tumbuhan kekurangan suplai air, maka suplai air dalam tumbuhan akan menurun dan laju perkembangannya ditentukan oleh laju semua fungsi-fungsi yang fital juga menjadi menurun. Keadaan kekeringan yang berlangsung lama dapat mematikan tumbuhan (Tim Fisiologi Tumbuhan, 2011).

1.2         Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum ini yaitu untuk melihat peristiwa plasmolisis dan deplasmolisis pada jaringan epidermis, menghitung tekanan osmosis cairan sel, dan mengetahui cara mengukur potensial air dengan metode Chardakov.

  1. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

2.1              Waktu dan Tempat

Praktikum mengenai Air Sebagai Komponen Tumbuhan dilaksanakan pada hari rabu tanggal 9 maret 2011 di laboratorium fisiologi tumbuhan jurusan biologi fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam, universitas andalas.

2.2              Alat dan Bahan

2.2.1        Plasmolisis dan Deplasmolisis Pada Jaringan Epidermis

Alat yang digunakan adalah pisau silet, pipet tetes, kaca objek, cover dan mikroskop. Sedangkan bahan yang digunakan adalah daun Rhoe discolor, Sukrosa 1M atau NaCL 1 M.

2.2.2    Menentukan Tekanan Osmosis Cairan Sel

Alat yang digunakan adalah pisau silet, tabung reaksi, pinset, gelas objek dan mikroskop. Sedangkan bahan yang digunakan adalah daun Rhoe discolor yang masih segar, larutan glukosa atau sukrosa dengan konsentrasi 0,26; 0,22; 0,20; 0,18; 0,16; 0,14; 0,12; 0, 10 M.

2.2.3 Mengukur Potensial Air Dengan Metode Chardakov

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah enam buah pipet berkapasitas 10 ml, tabung reaksi 6 buah, alat pengebor gabus, mikropipet atau syringe 6 buah. Sedangkan bahan yang digunakan adalah umbi Solanum tuberrosum, larutan sukrosa 0,1 ; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; 0,6 M, dan metilen blue.

2.3              Cara Kerja

2.3.1        Plasmolisis dan Deplasmolisis Pada Jaringan Epidermis

Daun Rhoe discolor diambil selapis tipis berukuran 1-3 cm, diletakkan di atas kaca objek. Tutup dengan cover glass, amati sel-sel berwarna didekat tepi irisan di bawah mikroskop. Kemudian ditambahkan 2 atau 3 tetes sukrosa 1M melalui sisi dari kaca penutup, air yang berlebihan diserap dengan tisu agar sukrosa masuk ke dalam objek glass. Penambahan tetesan larutan sukrosa terus dilakukan hingga ikut terserap oleh tissu kedalam kaca.Kemudian diamati sel – sel yang terplasmolisis dan yang tidak terplasmolisis. Penurunan volume protoplas diamati dan diperhatikan benang-benang sitoplasmik tak berpigmen tetap melekat pada diding sel dan waktu prosesnya di catat. Kemudian tisu diletakkan untuk menyerap keluar larutan sukrosa dan di tambahkan lagi beberapa tetes air di sisi kaca berlawanan.  Proses deplasmolisis yang terjadi di amati dan waktu yang diperlukan untuk proses tersebut di catat. Prosedur ini dilakukan juga untuk larutan NaCL 1M.

2.2.2   Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel

Mula-mula disiapkan 8 buah tabung reaksi dan diisi 10 mL larutan sukrosa dengan konsentrasi yang berbeda-beda untuk setiap tabung. Disayat lapisan epidermis yang berwarna dari tanaman dengan menggunakan silet. Kemudian diperiksa di bawah mikroskop apakah sayatan cukup baik digunakan dan dihitung jumlah sel yang berwarna. Jika sayatan sudah baik dimasukkan ke dalam  tabung reaksi dan dicatat waktu mulai perendaman. Sayatan dibiarkan dalam larutan selama 30 menit. setelah 30 menit sayatan diperiksa di bawah mikroskop dengan reagen sukrosa tempat sayatan tadi disimpan. Dicari konsentrasi sukrosa dimana 50% dari jumlah sel epidermis tadi telah terplasmolisis. Keadaan ini disebut insipien Plasmolisis. Sel pada keadaan Insipien Plasmolisis memiliki potensial osmotik sama dengan potensial osmotik larutan yang digunakan. Ditentukan potensial osmotik sel pada Insipien Plasmolisis.

2.2.3    Mengukur Potensial Air Jaringan Dengan Metode Chadakove

Diisi tabung vial dengan larutan sucrosa yang telah disediakan masing-masing sebanyak 10 mL. Umbi Solannum tuberrosum  yang akan diukur potensial airnya di potong-potong dengan menggunakan alat pengebor gabus. Jaringan tadi dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 10 potong ke dalam tabung reaksi. Tabung reaksi ditutup dan dibiarkan selama 80 menit. Tabung reaksi digoyang perlahan-lahan setiap 20 menit untuk mempercepat terjadinya keseimbangan. Setelah 80 menit, potongan dikeluarkan dengan menggunakan pinset. Selanjutnya larutan sisa dites dengan larutan asal yang konsentrasinya dan telah diwarnai dengan mutilen biru. Dengan menggunakan pipet tetes larutan pengetes diteteskan di atas sisa larutan tadi secara perlan-lahan, dan diamati gerakan larutan pengetes tadi. Apabila larutan pengetes jatuh ke dasar larutan sisa berarti larutan sisa telah menjadi encer. Apabila larutan pengetes dipantulkan lagi ke atas berarti larutan sisa telah menjadi pekat dari semula. Dicari pada larutan sisa yang mana larutan pengetes tadi tidak jatuh ke dasar maupun dipantulkan lagi ke atas tetapi melayang pada larutan sisa perendaman. Larutan dimana larutan pengetes melayang menunjukkan larutan tersebut tidak mengalami perubahan selama digunakan perendaman potongan tadi yang berarti potongan dalam keadaan seimbang dengan larutan sukrosa yang digunakan, yang berarti pula potensial air rendaman sama dengan potensial air larutan. Ditentukan potensial osmotik (PO) sel dengan melihat tabel tekanan osmotik pada larutan sukrosa pada suhu 20oC.

2.4              Pengamatan

Pada percobaan plasmolisis dan deplasmolisis pada jaringan epidermis yang perlu diamati pada percobaan ini adalah mengamati penurunan volume protoplasma dan benang-benang sitoplasmik tak berpigmen tetap melekat pada dinding sel, mengamati proses deplasmolisis yang terjadi pada Rhoe discolor dan catat waktu yang diperlukan untuk berlangsungnya proses tersebut. Pada percobaan tekanan osmosis cairan sel, yang perlu diamati pada percobaan ini adalah menentukan konsentrasi sukrosa yang mengalami proses insipiens plasmolosos dan menentukan potensial osmotik sel pada insipiens plasmolisis. Percobaan potensial air metoda chardakov yang perlu diamati pada percobaan ini adalah mengamati metilen blue yang ditetesi dalam larutan Solannum tuberrosum. Dan melihat cairan metilen blue tersebut apakah jatuh, melayang atau memantul.

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1              Hasil

Dari praktikum yang telah kami lakukan, didapatkan hasil sebagai berikut :

3.1.1  Plasmolisis dan deplasmolisis pada jeringan epidermis

Tabel percobaan 1

No. Perlakuan Deskripsi pengamatan sel Waktu plasmolisis-deplasmolisis
1. Air destilata Tidak mengalami plasmolisis
2. Sukrosa 1M Mengalami plasmolisis 60 detik
3. NaCL 1M Mengalami plasmolisis 30 detik

3.1.2   Tekanan osmosis cairan sel

Tabel percobaan 2

No. Larutan sukrosa pada 200C Sel awal Sel akhir (%)
Molaritas (M) Pontensial Osmotik (Atm)
1. 0,24 -6, 108 50 53,70
2. 0,22 -5, 120 17 85,83
3. 0,20 -5, 218 25 88,53
4. 0,18 -4, 275 66 76
5. 0,16 -4, 132 62 53,03
6. 0,14 -3, 160 60 62,5
7. 0,12 -3, 100 25 75
8. 0,10 -2, 70 41 41,4

% Tekanan osmosis =   Sel awal – Sel akhir      x 100%

Sel awal

3.1.3   Mengukur potensial air dengan metode Chardakov

Tabel percobaan 3

No. Konsentrasi (M) Arah pergerakan larutan penguji
1. 0,1 Dipantulkan
2. 0,2 Jatuh
3. 0,3 Melayang
4. 0,4 Jatuh
5. 0,5 Jatuh
6. 0,6 Dipantulkan

3.2              Pembahasan

3.2.1   Plasmolisis dan deplasmolisis pada jeringan epidermis

Dari hasil yang diperoleh dapat diketahui bahwa saat Rhoe discolor ditetesei air, tidak terjadi plasmolisis. Setelah dikeringkan dan ditetesi larutan sukrosa, terjadi plasmolisis setelah 60 detik pengamatan. Jadi, pada pengamatan awal sel belum terplasmolisis. Setelah diberi larutan sukrosa, barulah sel terplasmolisis. Dinding selnya berkerut dan terlihat batasan antara membran sel dengan dinding sel. Setelah sukrosa diserap dari cover glass dan sel diberi air, sel kembali mengembang. Cairan di luar sel masuk ke dalam sel sehingga terjadi penambahan volume sel. Jadi cairan di dalam protoplas sudah menjadi lebih encer. Kejadian ini disebut dengan deplasmolisis. Waktu yang dibutuhkan sel ini untuk deplasmolisis yaitu 240 detik (4 menit). Larutan sukrosa dapat menyebabkan sel terplasmolisis karena potensial air pada sel lebih tinggi daripada di luar sel, sehingga cairan di dalam sel berdifusi ke luar sel. Akibatnya, terjadi penurunan volume sel dan sel dinding sel tampaknya berkerut.

Sedangkan dengan menggunakan NaCl, waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya plasmolisi adalah 30 detik. Sel mengalami plasmolisis setelah ditetesi dengan NaCL 1 M, dan ini ditandai dengan keluarnya cairan dari dalam sel dan mengakibatkan dinding sel menjadi berkerut, dan sel bisa kembali kebentuk  semula dengan meneteskan air ke sel Rhoe discolor tersebut dan menyerap cairan NaCl dari jaringan sehingga akan mengakibatkan air masuk ke dalam sel dan bentuk sel menjadi pulih kembali.

Menurut Salisbury dan Ross (1995), Terlepasnya protoplas dari dinding sel disebabkan oleh penyusutan atau pengurangan volume, karena cairan di dalam protoplas sudah menjadi lebih pekat dan karenanya berpotensial osmotik lebih negatif.

Pada bagian luar sitoplasma terdapat membran plasma yang berfungsi sebagai pembatas antara satu sel dengan sel lain disebelahnya. Selain itu membran plasma jugaq berfungsi untuk mengatur lalu lintas materi yang akan masuk dan keluar dari sel. Masuk dan keluarnya zat, harus menembus membran plasma dan berlangsung secara aktif maupun pasif. Transpor pasif berlangsung dengan cara difusi, dan osmosis. Proses difusi adalah percampuran antara dua senyawa yang berbeda konsentrasinya, difusi terjadi dari tempat yang konsentrasinya tinggi ke tempat yang konsentrasinya rendah. Difusi juga terjadi pada sel, tetapi antara senyawa yang berbeda konsentrasinya itu terdapat membrane plasma yang mempunyai pori (osmos). Dengan begitu difusi pada membran harus melalui pori- pori membran plasma, proses ini disebut dengan osmosis (Aninomous, 2011).­

Plasmolisis adalah peristiwa terlepasnya protoplasma sel tanaman dari dinding sel atau peristiwa keluarnya air dari dalam sel tanaman. Dijelaskan pula bahwa peristiwa plasmolisis dipengaruhi oleh suhu, maka plasmolisis yang terjadi semakin cepat jika suhu tinggi (Januar, 1989).

3.2.2   Tekanan osmosis cairan sel

Pada tabel dapat diperhatikan terjadi perubahan jumlah yang ditemukan karena perbedaan konsentrasi pada masing-masing tabung. Dari hasil pengamatan ini dilakukan perhitungan untyk mendapatkan persentase nya. Perhitungannnya dengan mengali jumlah sel awal dengan jumlah sel akhir dibagi jumlah sel awal dikali seratus. Kemudian hasil yang mendekati 50% atau yang biasa disebut dengan insipient plasmolisis dilanjutkan pencariannya dengan menggunakan rumus

W= M.i.R.T

M = Molaritas larutan

I  = Konstanta ionisasi

R = Konstanta gas umum yang digunakan 0,0831 bar/mol K

T = Suhu( 0C + 273 = K)

Proses osmosis dapat berlangsung karena dari satu sisi nsipien ada larutan dan di sisi lain ada larutan lain yang berbeda konsentrasinya. Besarnya tekanan nsipie bergantung pada konsentrasi larutan dalam osmometer. Sebab nilai dari konsentrasi larutan akan menurun jika konsentrasi bahan terlarut meningkat. Sehingga seharusnya perbedaan konsentrasi larutan sukrosa mempengaruhi banyak nya sel yang terplasmolisis. Dan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat penyayatan ada yang terlalu tebal dan ada yang terlalu tipis. Disamping itu kesalahan yang terlalu lama perendaman juga karena ketidakseriusan akan mempengaruhi hasil yang tidak akurat.

Konsentrasi yang mengalami proses plasmolisis terbesar adalah pada konsentrasi 0,20 M dan yang mengalami plasmolisis insipien adalah pada konsentrasi adalah pada konsentrasi 0,16 M.

Persentase plasmolisis tertinggi terjadi pada konsentrasi sukrosa 0,18 M dengan persentase 70%. Hal ini berarti, pada konsentrasi ini cairan sel yang keluar sangat banyak, hal ini berbanding terbalik dengan teori yang ada, dimana konsentrasi tertinggi didapatkan pada persentase plasmolisis yang terbesar. Sitoplasma keluar dari sel melalui membran sel terjadi karena sel diletakkan dalam suatu larutan yang hipertonis terhadap cairan sel (konsentrasi sel yang besar), akibatnya cairan keluar dari vakuola dan menyebabkan vakuola menyusut (Dwidjoseputro, 1980).

Para ahli fisiologi tumbuhan menganggap bahwa plasmolisis insipien terjadi pada jaringan yang separuh jumlah selnya baru saja mulai mengalami plasmolisis (protoplas baru mulai terlepas dari dinding sel), berarti tekanan di dalamnya sama dengan nol. Jika anggapan itu benar, maka potensial osmotik larutan penyebab plasmolisis insipien setara dengan potensial osmotik di dalam sel, sesudah kesetimbangan dengan larutan tercapai (Salisbury dan Ross, 1995).

Pada umumnya makin tinggi konsentrasi larutan maka makin banyak sel sel terplasmolisis. Pernyataan ini sedikit berbeda dari percobaan yang dilakukan. Hal ini karena sel epidermis yang terdapat bervariasi jumlah sel dan ukuran sampel yang akan diteliti sehingga tidak terjadi kesamaan reaksi untuk tiap sel yang dilarutkan pada larutan sukrosa.

3.3.3   Mengukur potensial air dengan metode Chardakov

Pada percobaan ini didapatkan hasil, setelah ditetesi larutan penguji hanya larutan sisa perendaman sampel  dengan konsentrasi 0,3 M yang melayang, selebihnya larutan penguji jatuh untuk konsentrasi 0,2 M, 0,4 M, 0,5 M, dan larutan penguji dipantulkan pada konsentrasi 0,1 M dan  0,6 M. Untuk hasil tetesan yang jatuh (tenggelam), larutan telah menjadi kurang pekat, berarti larutan telah menyerap air dari jaringan. Osmosis terjadi dari jaringan ke dalam larutan. Pada tetesan yang dipantulkan, hal ini berarti larutan perendaman jaringan menjadi lebih pekat, menandakan jaringan telah menyerap air. Osmosis terjadi dari larutan ke dalam jaringan. Dalam hal ini, jaringan mempunyai potensial air yang lebih rendah (lebih negatif) dari larutan awal. Sedangkan pada tetesan yang melayang , pontnsial air larutan sama dengan jaringan.

Jika di satu sisi membran ada larutan dan di sisi lainnya ada larutan lain yang berbeda konsentrasinya, maka osmosis akan berlangsung. Larutan yang lebih pekat mempunyai potensial air yang lebih rendah (lebih negatif), jadi air akan berdifusi ke daerahnya dari larutan aka larutan mempunyai potensial air lebih rendah daripada jaringan awal. Lain sampai tekanannya naik ke suatu titik, yaitu sampai potensial airnya sama dengan potensial-air larutan yang kurang pekat. Hal ini mungkin terjadi bila keduanya mempunyai wadah. Jika difusi berlangsung menuju larutan yang tidak berwadah, maka pergerakan ini akan terus berlangsung sampai larutan yang lebih pekat diencerkan, yaitu sampai potensial airnya sama dengan potensial-air larutan di sisi lain membran. Pada saat itu, kedua larutan mempunyai potensial air bernilai negatif yang sama. Kesetimbangan pun tercapai (Salisbury dan Ross, 1995).

Nilai potensial air tidak dapat diketahui atau di ukur absolutnya maka yang diukur hanyalah selisih antara potensial air dalam sistem yang teliti, misalnya jaringan tumbuhan dengan potensial air murni yang mempunyai suhu dan tekanan atmosfir yang sama dengan sistem yang teliti. Biasanya potensial air akan bertambah dengan naiknya suhu, dimana suhu sangan penting dalam pengukuran ptensial air ( Crafts. A. S, 1986 ).

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1        Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan dan hasil yang didapat, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Plasmolisis lebih cepat terjadi pada larutan NaCl daripada larutan sukrosa.
  2. Plasmolisis terbesar terjadi pada konsentrasi 0,20 M, dan yang mengalami plasmolisis insipiet adalah pada konsentrasi 0,16 M.
  3. Semakin negative potensial larutan, semakin besar terjadinya pengurangan berat dari jaringan.
  4. Larutan penguji yang melayang hanya larutan sisa perendaman sampel  dengan konsentrasi 0,3 M, selebihnya larutan penguji jatuh untuk konsentrasi 0,2 M, 0,4 M, 0,5 M, dan larutan penguji dipantulkan pada konsentrasi 0,1 M dan  0,6 M.
  5. Hasil tetesan yang jatuh (tenggelam), larutan telah menjadi kurang pekat, berarti larutan telah menyerap air dari jaringan.Pada tetesan yang dipantulkan, hal ini berarti larutan perendaman jaringan menjadi lebih pekat, menandakan jaringan telah menyerap air.Sedangkan pada tetesan yang melayang , pontnsial air larutan sama dengan jaringan.
  6. Semakin tinggi konsentrasi larutan, semakin negative potensial airnya dan kebutukan air semakin besar.
  7. Air bergerak dari potensial tinggi ke potensial rendah.

4.2        Saran

Dalam melakukan praktikum ini praktikan diharapkan aktif bertanya kepada asisten pendamping agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan percobaan. Praktikan juga harus lebih hati-hati dalam menggunakan alat-alat laboratorium. Selain itu, praktikan hendaknya lebih teliti dalam mengamati setiap percobaan yang dilakukan terutama dalam menghitung jumlah sel yang terplasmolisis, karena jika tidak teliti akan didapat hasil yang kurang akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2011. Plasmolisis. http://id.wikipedia.org/wiki/Plasmolisis. 12 maret 2011.

Bidwell, R.G.S. 1979. Plant Physiology Second Edition. Max Million Publiching. New York.

Campbell dan Reece. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Erlangga. Jakarta.

Craft, A.S. 1968. Water Deficit and Physiological Processes vol 2. Academic Press: New York and London.

Dwidjo, Seputro.1985. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia: Jakarta

Harjadi, Sri sediati. 1979. Pengantar Agronomi. Gramedia : Jakarta

Januar, D. 1989. Dasar-dasar Fisisologi Tumbuahan.Gramedia: Jakarta.

Loveles, A.R.1987. Prinsip – Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik.Gramedia

Tim Fisiologi Tumbuhan. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Padang : Universitas Andalas

Salisbury, F. B dan Cleon W, Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. ITB: Bandung

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: