Nilai darah

Published April 21, 2012 by putrirajopagaruyuang

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

NILAI DARAH

KELOMPOK V

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Darah adalah suatu jaringan yang bersifat cair. Darah yang terdiri dari sel- sel (dan pigmen- pigmen sel) yang terdapat secara bebas dalam medium yang bersifat seperti air ialah plasma sel- sel dan fragmen- fragmen sel merupakan unsur- unsur darah yang disebut dengan unsur “jadi”, sel – sel ini cukup besar sehingga dapat diambil dengan mikroskop biasa. Ada tiga tipe unsur “jadi” ialah sel-sel darah merah atau eritrosit, sel-sel darah putih atau lukosit, dan keeping –keping darah atau trombosit (Wattimena, 1990).

Darah merupakan cairan yang terdiri atas dua bagian yaitu selah darah dan plasma. Di waktu sehat volume darah adalah konstan dan sampai batas tertentu diatur oleh tekanan osmotik dalam pembuluh darah dan dalam jaringan. Plasma darah terdiri atas : air (91 %), mineral (0,9 %), protein (8 %), dan sisanya diisi oleh bahan organik yaitu : glukosa, lemak, urea, asam urat, kreatinin, kolesterol dan asam amino. Selain itu plasma juga berisi gas (COdarah 2), hormon, enzim dan antigen. Darah berfungsi sebagai sistem transpor dari tubuh, menghantarkan oksigen ke jaringan, melindungi tubuh terhadap serangan bakteri, pembentukan jaringan, menyegarkan cairan jaringan, dll (Evelyn, 2005).

Jumlah sel darah merah lebih banyak di dalam tubuh. Pada orang dewasa sel darah dibentuk dalam sum-sum tulang belakang (bonemarrow). Pada waktu mula- mula dibentuk sel darah merah mempunyai nucleus dan hemoglobin tidak begitu banyak. Jangka hidup sel darah adalah 120 hari, apabila terjadi pendarahan sum-sum tulang belakang secara cepat mengembalikan jumlah sel darah merah secara cepat (Berelander dan Ramaley, 1979).

Sel darah putih jumlahnya sedikit dan mempunyai inti. Fungsi sel darah putih melindungi badan dari infeksi. Nanah merupakan sel darah yang mati dan juga merupakan hasil kerusakan jaringan. Leukosit akan terlihat jelas apabila diwarnai dengan hematoksilin dan eosin dibandingkan sel darah merah (Kimball, 1996).

Untuk mengukur sel darah merah dapat dilakukan proses pengenceran, diantaranya dilakukan dengan pipet pengenceran thoma, lalu jumlah darah dihitung dibewah mikroskop. Selain sel darah merah berada dalam Hemositumeter. Larutan pengencer yang digunakan misalnya NaCl 0,9 % stong, toison dan lain-lain (Wulangi, 1990).

Berdasarkan reprodusibilitas dan sederhananya, pemeriksaan hematokrit paling dapat dipercaya di antara pemeriksaan yang lainnya, yaitu kadar hemoglobin dan hitung eritrosit. Dapat dipergunakan sebagai tes penyaring sederhana terhadap anemia. Nilai hematokrit atau PCV dapat ditetapkan secara automatik menggunakan hematology analyzer atau secara manual (Anonymous,2011).

2.1 Tujuan

Praktikum nilai darah ini bertujuan untuk menghitung nilai hematokrit (Packed Cell Voume, PCV) dan menghitung kadar hemoglobin dengan metoda sahli.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Darah adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata haemo atau hemato yang berasal dari bahasa yunani haima yang berarti darah (Evelyn, 2005).

Ada beberapa fungsi darah adalah membawa nutrien yang telah disiapkan oleh saluran pencernaan menuju ke jaringan tubuh, membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan, membawa karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru, membawa produk buangan dari berbagai jaringan menuju ke ginjal untuk diekskresikan, membawa hormon dari kelenjar endokrin ke organ-organ lain didalam tubuh, berperan penting dalam pengendalian suhu tubuh dengan cara mengangkut panas dari struktur yang lebih dalam menuju ke permukaan tubuh, ikut berperan dalam mempertahankan keseimbangan air, berperan dalam sistem buffer, seperti bicarbonat di dalam darah membantu mempertahankan pH yang konstan pada jaringan dan cairan tubuh, pembekuan darah pada luka mencegah terjadinya kehilangan darah yang berlebihan pada waktu luka, serta mengandung faktor-faktor penting untuk pertahanan tubuh terhadap penyakit (Evelyn, 2005).

Sel darah merah pada hewan vertebrata umumnya berbentuk lonjong berinti dan bikonveks. Pada manusia sel darah merah mempunyai ukuran diameter rata-rata 7,5 mikron dan tebal 1 mikron. Bentuk yang menarik ini mempercepat pertukaran gas- gas antara sel- sel darah dan plasma darah. Struktur eritrosit terdiri atas membran sel yang merupakan dinding sel substansi seperti spons yang stroma. Sel darah merah berisi bermacam- macam, substransi diantaranya enzim, glukosa, garam-garam organik dan anorganik (Dahelmi, 1991).

Sel darah merah mempunyai jumlah yang sangat banyak dibanding sel darah putih. Wanita normal mempunyai kira-kira 4,5 juta sel darah dalam tiap ml3 darah. Pada laki-laki normal rata-rata jumlahnya paling tinggi sekitar 5 juta (Kimball, 1996).

Adapun fungsi darah sebagai berikut: mangangkut bahan- bahan kedalam dari semua jaringan- jaringan badan, mempertahankan badan terhadap penyakit menular, substansi yang berhubungan dengan eksresi, respirasi dan nutrisi. Mempertahankan kenormalan asam dan basa dalam tubuh, mengatur keseimbangan air, mengatur suhu tubuh, mempertahankan tubuh terhadap infeksi, dan transfor hormone dan metabolime (Kartolo, 1989).

Sel darah putih penting untuk pertahanan tubuh. Sel darah putih kurang dari 6000/ mm3 disebut dengan Leucopenia, sedangkan bila melebihi dari normal disebut dengan Leukositosis. Leukositosis dapat dibagi 2 yaitu: leukositosis fisiologis dan leukositosis phatologis (Wulangi, 1990).

Leukosit akan terlihat apabila diwarnai dengan hematoksi;lin dan eosin disbanding sel darah merah (Berelander dan Ramaley, 1979). Keping darah merah adalah fragmen-fragmen sel yang dihasilkan oleh sel-sel besar dalam sum-sum tulang belakang. Keeping-keping darah berbentuk cakra dan jauh lebih kecil dari sel darah merah (Kimball, 1996).

Dalam darah terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen. Pada sebagian hewan tak bertulang belakang atau invertebrata yang berukuran kecil, oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan – hewan bertulang belakang atau vertebrata termasuk kuda. Zat besi dalam bentuk Fe2+ dalam hemoglobin memberikan warna merah pada darah. Dalam keadaan normal 100 ml darah mengandung 15 gram hemoglobin yang mampu mengangkut 0,03 gram oksigen. Hemosianin yang berwarna biru mengandung tembaga dan digunakan oleh hewan Crustacea. Sedangkan cumi-cumi mengandung vanadium kromagen yang memberikan warna hijau muda, biru atau kuning orange (Evelyn, 2005).

Sistem peredaran darah pada katak terdiri dari, jantung beruang tiga, arteri, vena, sinus, venosus, kelenjar limfa, dan cairan limfa.darah katak tersusun dari plasma darah yang terang (cerah) dan berisi sel – sel darah (korpuskula), yakni sel – sel darah merah , sel darah putih dan keeping sel darah ( R. Swasono, 1970 ).

Untuk mencegah berbaliknya, aliran darah, di antara serambi dan bilik terdapat katup (valve), sedangkan antara serambi kanan dan kiri terdapat sekat (septum). Di dalam trunkus arteriosus terdapat katup spiralis. Darah yang mengandung CO2, dari seluruh tubuh masuk ke jantung melalui vena kava (pembuluh balik tubuh). Darah ini mula – mula berkumpul di sinus venosus, dan kemudian karena adanya kontraksi maka darah akan masuk serambi kanan. pada saat itu, darah yang mengandung O2, yang berasal dari paru-paru masuk ke serambi kiri. Bila kedua serambi berkontraksi maka darah akan terdorong ke dalam bilik. Dalam bilik terjadi sedikit percampuran darah yang kaya O2 dan miskin O2. Untuk selanjutnya, darah yang kaya O2 dalam bilik dipompa melalui trunkus arteriosus menuju arteri hingga akhirnya sampai di arteri yang sangat kecil (kapiler) diseluruh jaringan tubuh. Dari seluruh jaringan tubuh, darah akan kembali kejantung melewati pembuluh balik yang kecil (venula) dan kemudian ke vena dan akhirnya ke jantung, sementara itu, darah yang miskin dipompa keluar melewati arteri konus tubular. Pada katak dikenal adanya sistem porta , yaitu suatu sistem yang dibentuk oleh pembuluh balik (vena ) saja ( R. Swasono, 1970 ).

Pengamatan yang mendalam mengenai jantung mamalia berbilik empat memberikan pemahaman yang lebih lengkap mengenai bagaimana sirkulasi ganda bekerja. Jantung manusia yang berada persisi di bawah tulang dada, misalnya berukuran sekitar satu kepalan tangan. Jantung terutama tersusun dari jaringan otot jantung. Kedua atria mempunyai dinding yang relatif tipis dan berfungsi sebagai ruangan penampungan bagi darah yang kembali ke jantung, dan hanya memompa darah dalam jarak yang sangat dekat menuju vemtrikel. Ventrikel mempunyai dinding yang lebih tebal dan jauh lebih kuat dibandingkan dengan atrrium-khususnya ventrikel kiri, yang harus memompakan darah keluar ke seluruh organ tubuh melalui sistematik (Anonymous,2011).

Nilai hematokrit adalah suatu istilah yang artinya adalah prosentase berdasar volume dari darah, yang terdiri dari sel-sel darah merah. Penentuannya dilakukan dengan mengisi tabung hematokrit dengan darah yang diberi zat agar tidak menggumpal, kemudian dilakukan sentrifuse sampai sel-sel mengumpul di dasar (Frandson, 1996).

PCV merupakan perbandingan antara volume eritrosit darah dan komponen darah yang lain. Volume eritrosit di dalam darah berbanding langsung terhadap jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin. Nilai PCV merupakan petunjuk yang sangat baik untuk menentukan jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin dalam sirkulasi darah (Coles, 1986).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Nilai darah ini dilaksanakan pada hari Rabu, 30 November 2011 di Laboratorium Teaching II , Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan alam, Universitas Andalas, Padang.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1  Menghitung Nilai Hematokrit (Packed Cell Volume, PVC)

Alat dan bahan yang digunakan  adalah tabung hematokrit, sentrifus hematokrit, skala standar hematokrit, sumbat tabung hematokrit dan hewan percobaan vertebrata (katak dan mencit).

3.2.2 Menghitung Kadar Haemoglobin Dengan Metode Sahli

Alat dan bahan yang digunakan  adalah tabung sampel darah, kit hemometer sahli lengkap, pipet tetes, sampel darah, EDTA 10%, HCl 0,1 N dan aquadest.

3.3 Cara kerja

3.3.1  Menghitung Nilai Hematokrit (Packed Cell Volume, PVC)

Dilakukan pengambilan sampel darah dengan memipetkan tabung hematokrit dengan jari pada bagian pembuluh darah atau jantung hewan yang telah ditentukan atau dapat juga dengan memipetkan sampel darah yang ditampung dalam tabung sampel darah. Tabung hematokrit diisi lebih dari setengahnya, tetapi tidak sampai penuh. Selanjutnya ditutup salah satu lubang tabung dengan penutupnya dan ditempatkan pada sentrifus secara tepat. Dilakukan sentrifus terhadap sampel darah dengan kecepatan 10000 rpm selama 5 menit. Setelah disentrifus, tabung diangakat secara cermat dan dihitung kadar hematokritnya dengan menggunakan skala hematokrit dan dinyatakan dalam persen.

3.3.3 Menghitung kadar haemoglobin dengan Metode Sahli

Disediakan sampel darah dan ditampung dalam tabung sampel darah yang dibilas dengan EDTA 10%. Dimasukkan 5 tetes HCL 0,1 N kedalam tabung pengencer Hemometer. Selanjutnya sampel darah dihisap dengan menggunakan pipet haemoglobin sampai garis tanda 20 ul (0,002 ml) dan sisa darah yang melekat diluar ujung pipet dihapus. Lalu sampel darah dialirkan ke dalam tabung hemometer dan jangan sampai ada gelembung udara. Waktu pertama memasukkan sampel darah tersebut waktu dicatat. Pipet tersebut secara cermat dibilas dengan HCl yang ada didalam tabung untuk membersihkan sisa sampel darah yang masih ada didalamnya. Campuran darah tersebut diaduk hingga homogen dan larutan menjadi coklat tua. Setelah itu ditambahkan aquadest setetes demi setetes dan diaduk dengan batang pengaduk dengan terus memperhatikan warna larutan hingga mencapai kesamaan warna dengan warna standar yang ada pada termometer Sahli. Kadar haemoglobin dibaca dengan menggunakan skala yang ada pada tabung dalam satuan g/dl.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.2.1  Menghitung Nilai Hematokrit (Packed Cell Volume, PVC)

Dari praktikum nilai darah yang telah dilakukan maka di dapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 1. Nilai hematokrit

Hewan percobaan Eritrosit Plasma
Katak 30,5 64,5
Mencit 53 47

Dari data diatas dapat kita lihat jumlah eritrosit katak adalah 30,5 lebih sedikit dibandingkan jumlah eritrosit mencit, yaitu 53. Sedangkan jumlah plasma katak adalah 64,5 lebih banyak dibandingkan jumlah plasma mencit, yaitu 47.

Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume, PCV) adalah persentase volume eritrosit dalam darah yang dimampatkan dengan cara diputar pada kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah (Anonymous,2011).

Eritrosit adalah sel-sel yang memiliki diameter 5-6 µm, serta terdiri dari 60-70% H2O, 28-35% hemoglobin, matrik anorganik maupun organik, membran sel non elastik tetapi fleksibel, berbentuk bikonkaf, pada mamalia eritrosit tidak berinti, sedangkan pada unggas dan unta, eritrosit berinti. Eritrosit didalam pembuluh darah tersusun bertumpuk seperti koin dan disebut dengan istilah reuloux (John Kramer, 2000). Sel darah merah dihasilkan di limpa, hati dan sumsum merah pada tulang pipih. Sel darah merah yang sudah mati dihancurkan di dalam hati

Menurut Hickman (1986), komponen utama sel darah merah adalah molekul haemoprotein, hemoglobin yang mengisi kira-kira sepertiga dari masa eritrosit. Dengan menggunakan metode elektrophoretik, hemoglobin dapat ditemukan. Molekul hemoglobin teiri atas dua cincin, haem dan globin yang disintesis sendiri-sendiri. Rantai haem mengandung besi dan merupakan tempat pengikatan oksigen. Molekul ini memiliki kemampuan mengambil dan menggantikan oksigen dengan tekanan relatif tipis.

Protein darah yang terdiri dari :Albumin, berperanan dalam tekanan oemosis darah. Globulin, berperanan dalam pembentukan zat anti, terutama gamma globulin. Fibrinogen, berperanan dalam proses pembekuan darah. Serum yaitu cairan yang berwarna bening bila darah diendapkan. Bewrarna jernih putih kekukingan Mengandung antiibodi Macam antibody : Presipitin, berperanan dalam menggumpalka antigen. Lisin, berperanan dalam menguraikan kuman. Antitoksin, berperanan dalam menawarkan racun. Garam mineral : Kation : Na+ , K+ , Ca2+ , Mg2+ dan Anion : CL- , HCO3- , PO4

4.2.2 Menghitung Kadar Haemoglobin Dengan Metode Sahli

Tabel 2. Kadar hemoglobin

Hewan percobaan Total cairan HCl HB T (waktu)
Katak 6.2 % 2.9 % 3.3 % 110 s
Mencit 3.2 % 2.9 % 0.3 % 60 s

Dari tabel 2 dapat diketahui bahwa Hb katak lebih besar daripada Hb mencit. Seharusnya Hb katak (amphibi) lebih kecil dibandingkan Hb mencit (mamalia). Pada praktikum yang dilakukan didapatkan Hb mencit yang lebih kecil, hal ini terjadi karena sampel darah mencit yang di uji telah beku sehingga mempengaruhi hasil praktikum yang dilakukan.

Metode Sahli tidak dianjurkan karena memiliki kesalahan yang besar, alatnya tidak dapat distandardisasi, dan tidak semua jenis hemoglobin dapat diukur, seperti sulfhemoglobin, methemoglobin dan karboksihemoglobin. Dua metode yang lain (oksihemoglobin dan sianmethemoglobin) dapat diterima dalam hemoglobinometri klinik. Namun, dari dua metode tersebut, metode sianmethemoglobin adalah metode yang dianjurkan oleh International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) sebab selain mudah dilakukan juga mempunyai standar yang stabil dan hampir semua hemoglobin dapat terukur, kecuali sulfhemoglobin (Anonymous,2011).

Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah ditambah dengan larutan HCl 0.1N kemudian diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Metode ini memiliki kesalahan sebesar 10-15%, sehingga tidak dapat untuk menghitung indeks eritrosit (Anonymous,2011).

IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari hasil yang telah di laksanakan maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Jumlah eritrosit katak adalah 30,5 lebih sedikit dibandingkan jumlah eritrosit mencit, yaitu 53.
  2. Jumlah plasma katak adalah 64,5 lebih banyak dibandingkan jumlah plasma mencit, yaitu 47.
  3. Jumlah eritrosit, leukosit dan haemoglobin dipengaruhi oleh jenis kelamin, kondisi tubuh dan lingkungan sekitar.
  4. Hb katak (amphibi) lebih kecil dibandingkan Hb mencit (mamalia). dilakukan.
  5. Pada praktikum yang dilakukan didapatkan Hb mencit yang lebih kecil, hal ini terjadi karena sampel darah mencit yang di uji telah beku sehingga mempengaruhi hasil praktikum yang dilakukan.

4.2 Saran

Dalam melakukan praktikum nilai darah, disarankan kepada praktikan untuk teliti dan menggunakan masker. Sampel darah yang akan di uji diusahakan tidak beku. Hal yang tidak dimengerti, ditanyakan lansung kepada asisten.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2011. http://marinebiologi.blogspot.com/2010/06/sistem-peredaran-darah.html. Diakses tanggal 6 desember 2011.

Berelander, G dan J.A, Ramaley. 1979. Dasar- Dasar Histologi. Erlangga. Jakarta.

Dahelmi. 1991. Fisiologi Hewan. UNAND. Padang.

Evelyn, C Pearce. 2005. Anatomi Dan Visiologi Untuk Paramedis. Gamedia : Jakarta.

Kartolo, W. S. 1990. Prinsi- Prisip Fisiologi Hewan. Erlangga :Jakarta

Kimball, J.W. 1996. Biologi. Erlangga : Jakarta.

Soewasono, R.1970. Zoology Anatomy Comparative.

Wattimena,JR dan Elin Yuilinah S. 1990. Fisiologi Manusia II Sistem Transfort dan Metabolisme. ITB : Bandung.

Wulangi, S. K. 1990. Fisiologi Peredaran. ITB : Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: