Analisis urine

Published April 21, 2012 by putrirajopagaruyuang

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

ANALISIS URINE

KELOMPOK V

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem urin terdiri dari ginjal, ureter, kantong kemih dan uretra dengan menghasilkan urin yang membawa serta berbagai produk sisa metabolisme untuk dibuang. Ginjal juga berfungsi dalam pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh dan merupakan tempat pembuangan hormon renin dan eritropitin. Renin ikut berperan dalam pengaturan tekanan darah dan eritropitin berperan dalam merangsang produksi sel darah merah. Urin juga dihasilkan oleh ginjal berjalan melalui ureter ke kantung kemih melalui uretra (Juncquiera, 1997).

Urin dibentuk oleh ginjal dalam menjalankan sistem homeostatik. Sifat dan susunan urin dipengaruhi oleh factor fisiologis (misalkan masukan diet, berbagai proses dalam tubuh, suhu, lingkungan, stress, mental, dan fisik) dan factor patologis (seperti pada gangguan metabolisme misalnya diabetes mellitus dan penyakit ginjal). Oleh karena itu pemeriksaan urin berguna untuk menunjang diagnosis suatu penyakit. Pada penyakit tertentu, dalam urin dapat ditemukan zat-zat patologik antara lain glukosa, protein dan zat keton (Probosunu, 1994).

Proses eksresi merupakan suatu proses pengeluaran zat-zat sisa yang tidak dipergunakan lagi. Zat ini berbentuk cairan contohnya urin, keringat dan air. Fungsi utama organ eksresi adalah menjaga konsentrasi ion (Na+, K+, Cl­­, Ca++ dan H+), menjaga volume cairan tubuh (kandungan air), menjga konsentrasi kandungan osmotik, membuang hasil akhir metabolism (urea, asam urat) dan mengeluarkan substansi asing atau produk metabolismnya (Dahelmi, 1991).

Pemeriksaan terhadap adanya glukosa dalam urin termasuk pemeriksaan penyaring. Gula mempunyai gugus aldehid dan keton bebas mereduksi ion kupri dalam suasana alkalis menjadi koprooksida yang tidak larut dan berwarna merah. Banyaknya endapan merah yang terbentuk sesuai dengan kadar gula yang terdapat di urin (Montgomery, 1993).

Menurut Wulangi (1990), menyatakan bahwa analisa urin itu penting, karena banyak penyakit dan gangguan metabolisme dapat diketahui dari perubahan yang terjadi didalam urin. Zat yang dapat dikeluarka dalam keadaan normal tidak terdapat adalah glukosa, aseton, albumin, darah dan nanah.

Test urine bertujuan untuk memeriksa komponen yang berbeda dari urine sebagai produk buang dari ginjal. Test urine yang teratur dilakukan untuk menemukan gejala-gejala penyakit. Hasil test dapat member informasi tentang kesehatan dan maslah seseorang. System rennin- angiotensin-aldosteron (RAAS) on (RAAS) supaya bagian dari putaran umpan baliks kompleks yang berfungsi dalam homeostatis (Watimena, 1989).

Zat tertentu yang terdapat didalam urin, meskipun dalam keadaan normal zat tersebut tidak tampak. Seperti glukosa, asaton, albumin, darah dan nanah. Berbagai keadaan ketidaknormalan komponen urin adalah : (a) Glikosuria, yaitu terdapatnya glukosa dalam air kemih. Hal ini merupakan gejala terlalu banyak makan gula, meningkatkan aktifitas kelenjar adranal yang mengakibatkan banyak penguraian glikogen dan pembebasan glukosa dari hati, hipoinsulin, yaitu berkurangnya jumlah insulin (b) Aseonaria, adalah terdapatnya senyawa keton dalam urin karena terlalu banyak mengkonsumsi lemak atau jumlah karbohidrat yang tersedia untuk pembakaran berkurang. Aseton juga terbentuk saat keadaan lapar. (c) Proteinuria, adalah salah satu keadan dimana satu macam protein plasma yang terdapat dalam urin. Seperti terdapatnya albumin dalam urin (albuminaria). Hal ini menunjukan gejala penyakit (d) hematuria, yaitu terdapatnya darah dala urin karena infeksi pada ginjal atau salah satu air kemih (Walungi, 1990).

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum analisis urine ini adalah untuk membandingkan kadar glukosa urine diabetes dengan urine normal dan untuk melihat sedimen yang terdapat pada urine.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra (Anonimous, 2011).

Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat (Anonimous, 2011).

Urine dibentuk oleh ginjal dalam menjalankan fungsinya secara homeostatik. Sifat dan susunan urin dipengaruhi oleh faktor fisiologis, misalnya masukan diet, bebagai proses dalam tubuh, suhu lingkungan, stress, mental dan fisik (Scanlon dan Sanders, 2000).

Faktor yang mempengaruhi urin adalah: 1)jumlah air yang diminum, 2) sistem saraf, 3) hormon ADH, 4)banyak garam yang harus dikeluarkan dari darah agar tekanan osmosis tetap, 5)pada penderita diabetes mellitus, pengeluaran glukosa diikuti oleh kenaikan volume urin (Thenawijaya, 1995).

Pembentukan urin pada Vertebrata melalui tiga proses, yaitu(1) ultrafiltrasi glomerular,(2)reabsorpsi tubular, dan (3)sekresi tubular. Pada manusia, secara normal kecepatan filtrasi glomerular mencapai 120 ml per menit, dan ultra filtrat yang terbentuk setiap hari rata adalah 200 liter, sedangkan urin yang dikeluarkan hanya 1,5 sampai 2 liter per hari (Wulangi, 1990).

Ginjal semua Vertebrata: ikan, amfibi, reptil, burung dan mamalia, dalam hal prinsip-prinsip fungsi filtrasi-reabsorpsi dan sekresi tubular adalah sama. Ada keuntungan dan kerugian mekanisme filtrasi. Ultrafiltrasi primer mengandung semua senyawa yang ada dalam darah, kecuali zat-zat bermolekul besar, misalnya protein. Banyak senyawa yang difiltrasi masih berguna bagi hewan misalnya asam amino, glukosa, vitamin dan senyawa tersebut tidak boleh dibuang. Oleh karena itu zat-zat tersebut harus direabsorpsi (Wulangi, 1990).

Ginjal filtrasi-reabsorbsi dapat memproses cairan tubuh dalam jumlah besar, dan sering lebih dari 99 % volume yang difilter direabsorbsi dan kurang dari 1 % disekresikan sebagai urin. Ginjal semua vertebrata terdiri atas unit-unit fungsional yang disebut nefron. Pada manusia setiap ginjal tersususn atas satu juta nefron. Nefron merupakan unit fungsional ginjal, yaitu unit paling kecil didalam ginjal yang mampu melakukan fungsi ginjal, yaitu membentuk urin dan dengan fungsi tersebut nefron juga memelihara kekonstanan komposisi cairan ekstraseluler tubuh (Wulangi,1990).

Zat buangan yang mengandung nitrogen pada umumnya merupakan hasil metabolisme protein dan asam nukleat. Misalnya amino adalah zat buangan yang asalnya dari deaminasi asam amino (Scanlon dan Sanders, 2000).

Deaminasi  merupakan suatu proses pemisahan gugus amino    (-NH2) dari asam amino yang dibarengi dengan oksidasi dari molekul yang tersisa membentuk karbohidrat. Amino yang terbentuk kemudian digunakan untuk pembentukan adenine dan guanine, diubah menjadi urea, suatu zat yang besifat larut dalam air (Kimball,1991).

2 NH3 +  CO2     →     C=O + H2O

Amino                      urea

Kadar normal urea dalam darah mamalia adalah 2,5-6 mmol per liter darah. Sumber utama zat buangan mengandung nitrogen dari deaminasi asam amino akan menghasilkan amino yang bersifat sangat toksik dan karena itu harus dibuang. Karena bersifat sangat larut dalam air, amino dapat segera dikeluarkan dari dalam tubuh dan tidak berbahaya serta aman bila diencerkan dengan air (Scanlon dan sanders, 2000).

Jumlah urin dihasilkan seseorang oleh jumlah air yang dimimun, syarat, ADH banyak garam yang harus dikeluarkan di dalam tubuh agar tekanan osmotiknya stabil apada penderita diabetes mellitus pengeluaran glukosa yang diikuti kenaikan volume urine. Ginjal berperan dalam pengaturan dalam karakteristik cairan tubuh termasuk ; volume darah, cairan luar sel, osmodalitas cairan tubuh konsentrasi spesifik berbagai keseimbangan asam basa (Kimball, 1996).

Setiap hari lebih kurang 1500 liter darah melewati ginjal untuk disaring dan terbentuklah lebih kurang 150- 170 liter urin primer. Meskipun demikian hanya 1- 1,5 liter urine yang kita keluarkan setiap hari. Banyak sedikitnya urine seseorang dikeluarkan setiap harinya dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut: zat-zat diuritict seperti kopi dan alcohol dan akan menghambat reabsorsi ion Na+ sehingga reabsorsi terhambat dan volume air meningkat, urine yang dikeluarkan menjadi lebih banyak. Suhu yang tinggi akan menurunkan volume air dalam tubuh, aliran darah dalam filtrasi menurun sehingga mengurangi volume urine (Kimball, 1996).

Analisa urine yang teratur meliputi test berikut: warna kejernihan, bau, berat jenis dan adanya sustansi lain. Hal –hal yang mempengaruhi warna yaitu keseimbangan cairan, makanan, obat-obatan dan penyakit. Jernih atau keruhnya urine menunjukkan kadar air di dalam tubuh. Vitamin B dapat mengenbalikan warna kuning cerah urine. Urin tidak normal memiliki bau yang sangat menyengat. Berat jenis urine menunjukkan sejumlah substansi yang terkandung di dalamnya. Makin tinggi berat jenis maka semakin banyak mater atau partikel yang terkandung didalamnya. Protein dan gula biasanya tidak ditemukanan di dalam urine. Glukosa dapat ditemukan pada urine jika terjadi kerusakab pada ginjal (Sabariah, 1995).

Pemeriksaan glukosa dalam urin dapat dilakukan dengan memakai reagens pita. Selain itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi ion cupri menjadi cupro. Dengan cara reduksi mungkin didapati hasil positip palsu pada urin yang mengandung bahan reduktor selain glukosa seperti : galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obat-obatan seperti streptomycin, salisilat, vitamin C. Cara enzimatik lebih sensitif dibandingkan dengan cara reduksi. Cara enzimatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl, sedangkan pada cara reduksi hanya sampai 250 mg/dl (Anonimous, 2011).

Terdapat dua jenis diabetes utama : Jenis 1 – “Diabetes atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus” (bergantung pada Insulin), Biasanya berlaku pada kanak-kanak dan remaja dan tidak dapat menghasilkan insulin. Jenis 2 – “Diabetes atau Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus” (tidak bergantung pada insulin), jenis paling biasa ditemui dan lebih daripada 90% penghidap diabetes adalah pada orang yang berumur dan berat badan berlebihan (Anonimous, 2011).

Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh. Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah (Anonimous, 2011).

Normalnya kadar gula dalam darah berkisar antara 70 – 150 mg/dL {millimoles/liter (satuan unit United Kingdom)} atau 4 – 8 mmol/l {milligrams/deciliter (satuan unit United State)}, Dimana 1 mmol/l = 18 mg/dl. Namun demikian, kadar gula tentu saja terjadi peningkatan setelah makan dan mengalami penurunan diwaktu pagi hari bangun tidur. Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar gula dalam darah jauh diatas nilai normal, sedangkan hypoglycemia adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami penurunan nilai gula dalam darah dibawah normal. Diagnosa Diabetes dapat ditegakkan jika hasil pemeriksaan gula darah puasa mencapai level 126 mg/dl atau bahkan lebih, dan pemeriksaan gula darah 2 jam setelah puasa (minimal 8 jam) mencapai level 180 mg/dl. Sedangkan pemeriksaan gula darah yang dilakukan secara random (sewaktu) dapat membantu diagnosa diabetes jika nilai kadar gula darah mencapai level antara 140 mg/dL dan 200 mg/dL, terlebih lagi bila dia atas 200 mg/dl (Anonimous, 2011).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum analisis urine ini dilaksanakan pada hari rabu, tanggal 21 september 2011 di Laboratorium Teaching II Jurusan Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum analisis urine ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, tester urine, penangas air, sentrifus dan mikroskop. Sedangkan bahan yang digunakan adalahurine penderita diabetes melitus, urine normal dan benedict.

3.3 Cara kerja

3.3.1 Pemeriksaan glukosa ( Uji benedick )

Disediakan 2 tabung reksi, kemudian dimasukkan larutan benedict sebanyak 2,5 ml dan dipanaskan selama 10 menit. Pada tabung pertama ditambahkan 4 tetes urin penderita diabetes. Pada tabung kedua ditambahkan 4 tetes urine normal kemudian  dihomogenkan dan diamati perubahan warna yang terjadi pada kedua tabung reaksi.

3.3.2 Pemeriksaan glukosa dengan tester urine

Urine penderita diabetes dan urine normal masing-masingnya dimasukkan ke dalam tabung reaksi, dicelupkan tester urine selama 30 detik. Keluarkan tester urine dan diamati perubahan warna yang terjadi pada tester urine.

3.3.3 Uji sedimen urin

Disediakan 2 tabung reaksi, diisi masing-masingnya dengan urin penderita diabetes dan urine normal, kemudian disentrifuse selama 5 menit, setelah itu diambil 1 tetes sedimen yang terbentuk, diamati di bawah mikroskop dan digambar sedimen yang terdapat pada kedua sample urin tersebut dan bandingkan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Pemeriksaan glukosa ( Uji benedick )

Tabung Warna larutan Kadar glukosa
I Biru 0,5 %
II Biru 0,5 %

4.1.2 Pemeriksaan glukosa dengan tester urine

Tester Kadar glukosa Protein
Urine penderita diabetes 0,5 % trace
Urine normal 0,5 % negatif

4.1.3 Uji sedimen urin

Didapatkan bentuk-bentuk sedimen urin sebagai berikut :

Urin penderita diabetes

Cystine Serat tumbuhan

Benang lendir

Silinder bergranule

 

Urine normal

Kristal Serat tumbuhan Benang lendir

4.2 Pembahasan

Pada tabung I yang berisi urine diabetes dan tabung II yang berisi urine normal memiliki kadar glukosa sama, yaitu 0,5 %. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh urine penderita diabetes yang di uji adalah penderita yang baru siap terapi segingga kadar glukosanya rendah. Menurut Soebroto (1989) seperti tabel berikut  :

Penilaian Warna akhir Kadar glukosa
- Biru 0
+ Hijau kekuningan 0,5-1 %
++ Kuning keruh 1-1,5%
+++ Jingga 2-3,5 %
+++ Merah keruh > 3,5 %

Menurut Despopoulus (1998), urine yang ditambahkan larutan glukosa akan memberikan hasil reaksi berupa warna. Semakin tinggi konsentrasi glukosa diberikan maka perubahan warna yang terjadi akan semakin pudar. Hal ini didukung oleh Nielsen (1979), reaksi pemberian glukosa terhadap urine menusia normal akan menyebabkan naiknya kadar gula pada urine manusia normal akan menyebabkan naiknya kadar gula pada urine sehingga akan terjadi perubahan warna jika sebelumnya diperlakukan dengan benedict.

Pada uji tester didapatkan hasil yang sama dengan uji benedict, yaitu kadar glukosa pada urine penderita diabetes dan urine normal sama. Namun, protein yang terdapat pada urine penderita diabetes adalah protein tace, sedangkan protein yang terdapat pada urine normal adalah negative. Hal ini sesuai dengan literature yaitu Protein dan gula biasanya tidak ditemukan pada urine jika terjadi kerusakan pada ginjal (Sabariah, 1995). Analisa urine yang teratur meliputi test sebagai berikut: warna, kejernihan, bau, berat jenis dan adanya sustansi lain. Hal – hal yang mempengaruhi warna yaitu keseimbangan cairan, makanan, obat0obatab dan penyakit. Jernih atau keruhnya urine menunjukkan kadar air di dalam tubuh. Vitamin B dapat mengembalikan warna kuning cerah urine. Urine yang tidak normal memiliki bau yang sangat menyengat. Berat jenis urine menunjukkan sejumlah substansi yang terkansung di dalamnya. Makin tinggim berat jenis maka semakin banyak mater atau partikel yang terkandung di dalamnya (Sabariah, 1995).

Sedimen yang terdapat pada urine penderita diabetes lebih bayak daripada urine normal. Menurut Wilson (1979), urine normal akan mengandung Leucine dan Kristal lena. Namun pada praktikum yang terlihat hanya lapisan sareat tumbuhan, sedangkan didalam urine yang diduga sakit akan mengandung Kalsium Oksalat, Dialomen, lapisan mukosa, serta leukosit dan Kristal posfat.

Pada urin orang normal terdapat bentuk benang lendir, phosfat amorf dan urin amorf. Hal ini disebabkan oleh sekresi tubular, selain mereabsorpsi zat-zat dalam jumlah besar dari filtrat  plasma, tubulus ini juga dapat mensekresikan zat-zat tertentu kedalam cairan tubular (Wulangi, 1990).

Kristal dalam urine tidak selalu berhubungan dengan adanya batu di saluran kemih, kristal merupakan hasil metabolisme normal dari tubuh. Jenis makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urin serta banyaknya makanan yang dikonsumsi akan mempengaruhi adanya kristal dalam urine. Epitel ibarat batu bata di dinding saluran kemih kita, jumlahnya akan meningkat apabila didapatkan adanya infeksi,radang dan batu saluran kemih. Bahan terakhir yang diperiksa dari urine lengkap ini adalah adanya benda-benda keton (keton bodies). Benda ini terdiri dari aseton,asam asetoasetat dan asam 13-hidroksibutirat. Puasa yang lama,diabetes mellitus (kencing manis) dan gangguan metabolisme lemak akan meningkatkan jumlah benda keton dalam urine (Anonimous, 2011).

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari praktikum yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan :

  1. Kadar glukosa pada urin penderita diabetes lebih tinggi daripada kadar glukosa pada urine normal.
  2. Protein pada urin penderita diabetes adalah protein trace, sedangkan pada urine normal adalah negative.
  3. Uji benedict dan tester didapatkan hasil yang sama.
  4. Sedimen pada urin penderita diabetes lebih banyak daripada sedimen pada urine normal.

5.2 Saran

Dalam melakukan praktikum analisis urine ini, disarankan kepada praktikan untuk teliti dan menggunakan masker. Hal yang tidak dimengerti, ditanyakan lansung kepada asisten.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2011. Gudanginspirasi.wordpress.com/2011/…/membaca-tes-urine-lengkap. Diakses tanggal 27 september 2011

Juncquiera, L, Carlos dkk. 1997. Histologi Dasar. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran

Montgomery, Rex dkk. 1993. Biokimia jilid I. Yogjakarta : Gajah Mada University Press

Probosunu, N. 1994 . Fisiologi Umum. Yogjakarta : Gajah Mada University Press

Soebroto ,G. 1989. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian rakyat

Kimball, Jonh W. 1991. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga: Jakarta

Thenawijaya, M. 1995. Uji Biologi. Erlangga: Jakarta

Wulangi, Kartolo. 1990. Prinsip-prinsip Fisiologi Hewan. ITB: Bandung

Dahelmi. 1991. Fisiologi Hewan. UNAND. Padang.

Despopoulus,A. 1998. Atlas Berwarna dan Teks Fisiologi. Hipokratea: Jakarta

Kimball, J.W. 1996. Biologi. Erlangga : Jakarta.

Sabariah, Ike. 1995. Penuntun Biologi. Ganesha exact. Bandung

Scanlon, Valerie C. dan Tina Sanders. 2000. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta

Wattimena,JR dan Elin Yuilinah S. 1989. Fisiologi Manusia II Sistem Transfort dan Metabolisme. ITB : Bandung

Wilson, J. A. 1979. Prinsiple of Animal Physiology. Collier Mc Millan. S Publisher:London   

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: